Jakarta, Swararakyat.com – Ketua Umum BARAMUDA08, Rhesa Yogaswara, mengingatkan publik agar tidak menyederhanakan dinamika global terkait Board of Peace (BoP) untuk Gaza yang diinisiasi oleh Donald Trump.
Hal tersebut disampaikan Rhesa dalam wawancara bersama Swarararakyat.com (Sabtu, 28/3/2026), menyusul perkembangan terbaru BoP yang dinilai telah memasuki tahap krusial dan sensitif.
“BoP ini bukan sekadar forum politik, tapi sudah masuk ke tahap operasional yang sangat sensitif menyentuh aspek keamanan, kedaulatan, dan masa depan Palestina,” ujar Rhesa.
Menurutnya, skema BoP kini tidak lagi berhenti pada tataran wacana, melainkan telah mengarah pada implementasi di lapangan, termasuk rencana pelucutan senjata kelompok bersenjata di Gaza serta kemungkinan penempatan pasukan internasional dalam masa transisi.
Rhesa menjelaskan, dalam rancangan yang berkembang, terdapat tahapan demiliterisasi yang mencakup penyerahan senjata berat, penghancuran infrastruktur militer, hingga pengawasan ketat selama proses stabilisasi berlangsung.
Selain itu, BoP juga dirancang untuk mengawal pembentukan pemerintahan teknokrat Palestina serta mendukung percepatan rekonstruksi Gaza pascakonflik dengan melibatkan berbagai pihak internasional.
Dalam wawancara tersebut, Rhesa menilai BoP saat ini menjadi arena tarik-menarik kepentingan global yang kompleks.
“Di satu sisi ada dorongan percepatan perdamaian, tapi di sisi lain muncul kekhawatiran soal arah politik jangka panjang dan potensi dominasi kekuatan tertentu,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keterlibatan negara-negara, termasuk Indonesia, harus ditempatkan dalam kerangka kehati-hatian dan prinsip politik luar negeri yang konsisten.
“Indonesia harus tetap berpegang pada prinsip bebas aktif, serta memastikan bahwa setiap langkah benar-benar berpihak pada perdamaian yang adil bagi rakyat Palestina,” tegasnya.
Rhesa juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang belum terverifikasi, terutama yang berkembang pesat di media sosial.
“Isu global seperti ini sangat kompleks. Publik perlu kritis dan tidak terburu-buru dalam menarik kesimpulan,” pungkasnya. (*)













