Harga Daging Ayam Naik, Jadi Penyumbang Utama Inflasi Agustus 2026

Harga daging ayam ras menjadi salah satu penyumbang utama inflasi Indonesia pada Agustus 2026. BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi terbesar sebesar 0,17 persen (Foto: Ilustrasi/Dok. Red/SR)

JAKARTA, SWARARAKYAT.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Agustus 2026. Kenaikan harga terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Baca Juga: Luas Panen Padi Juli Turun, BPS Proyeksikan 10,31 Juta Hektare hingga Oktober 2026

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, inflasi Agustus tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.

“Kelompok pengeluaran yang mendorong inflasi bulanan terbesar terutama adalah makanan, minuman, dan tembakau,” kata Ateng dalam rilis BPS di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Baca Juga: Penumpang Pesawat Naik 6,91 Persen, BPS Catat 5 Juta Orang pada Juli 2026

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,57 persen dengan memberikan andil 0,17 persen terhadap inflasi nasional.

Komoditas yang paling dominan adalah daging ayam ras, dengan andil inflasi sebesar 0,17 persen. Sementara itu, cabai rawit, ikan segar, dan beras masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen.

Selain komoditas tersebut, BPS mencatat sejumlah bahan pangan dan produk tembakau turut memberikan tekanan terhadap inflasi. Kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret putih mesin (SPM) masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen.

Tekanan inflasi juga berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,37 persen dan memberikan andil 0,03 persen terhadap inflasi Agustus.

Komoditas yang terutama mendorong kenaikan pada kelompok tersebut adalah emas perhiasan, yang mengalami inflasi sebesar 0,75 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen.

Di sisi lain, kelompok transportasi menjadi penahan laju inflasi. Kelompok ini mengalami deflasi 0,50 persen dengan memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen.

Deflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan tarif angkutan udara yang memberikan andil deflasi 0,06 persen, serta bensin dengan andil deflasi sebesar 0,03 persen.

BPS juga mencatat komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 0,88 persen dengan andil 0,15 persen terhadap inflasi umum. Sementara inflasi inti tercatat 0,21 persen dengan andil 0,13 persen.

Secara tahunan, inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen, sedangkan secara tahun kalender atau year-to-date (ytd) mencapai 1,86 persen.

Dari sisi wilayah, sebanyak 27 provinsi mengalami inflasi, sementara 11 provinsi lainnya mengalami deflasi. Inflasi bulanan tertinggi tercatat di Kepulauan Bangka Belitung dan Maluku, masing-masing sebesar 0,81 persen. Adapun deflasi terdalam terjadi di Papua Pegunungan sebesar 1,27 persen. (*)