Dalam tantangan awal Ramadan 1447 H, harga daging sapi menjadi sorotan utama di pasar tradisional Bandung dan sekitarnya. Berdasarkan data terkini yang dipublikasikan oleh Katadata (19 Februari 2026), harga daging sapi paha belakang di Jawa Barat mencapai sekitar Rp 140.131 per kilogram, mencatat kenaikan tipis sekitar 0,89% dibandingkan hari sebelumnya, sekaligus menunjukkan tren kenaikan yang konsisten sejak beberapa pekan belakangan. (katadata.co.id, Kamis 19 Pebruari 2026) ([Databoks][1])
Kondisi ini juga diperkuat oleh laporan nasional yang melaporkan tren serupa di beberapa wilayah lain. Misalnya, iNews melaporkan bahwa jelang Ramadan, harga daging sapi di sejumlah pasar seperti di Sukabumi bahkan naik hingga kisaran Rp 140.000–150.000 per kilogram, meningkat signifikan dibanding periode sebelum Ramadan. (iNews, Rabu 18 Pebruari 2026) ([iNews.ID][2])
Selain itu, pantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan bahwa di sejumlah pasar di Jawa Barat (termasuk Pasar Cileungsi, Bogor), harga daging sapi masih berada dalam kisaran Rp 130.000–140.000 per kilogram, dan belum melewati Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan. (ANTARA News, Kamis 19 Pebruari 2026) ([Antara News][3])
Tren kenaikan harga ini tidak terjadi secara terpisah, namun dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan pasokan yang berubah drastis menjelang bulan puasa. Menjelang Ramadan, permintaan terhadap protein hewani seperti daging sapi biasanya meningkat pesat karena tradisi “munggahan” dan pesta keluarga. Ketika permintaan meningkat sementara pasokan belum sepenuhnya mampu menyesuaikan, mekanisme pasar alami mendorong harga ke atas. (iNews, Rabu 18 Pebruari 2026) ([iNews.ID][2])
Namun, yang menarik adalah peran kepastian pasokan dalam menstabilkan harga. Di beberapa daerah, pemerintah melalui Bapanas dan Kementerian Perdagangan telah mengintensifkan pengawasan suplai pangan dengan memastikan stok sapi dan komoditas lain mencukupi untuk kebutuhan Ramadan. Ini menunjukkan bahwa kenaikan harga saat ini lebih bersifat normal secara musiman dibanding anomali pasar. (ANTARA News, Kamis 19 Pebruari 2026) ([Antara News][3])
Dari perspektif konsumen, kenaikan harga daging sapi tentu berdampak langsung pada daya beli, khususnya di kalangan rumah tangga berpenghasilan rendah dan menengah. Konsumen kini perlu menyesuaikan budget belanja mereka dengan realitas harga yang lebih tinggi dari biasanya, yang juga dibarengi dengan kenaikan harga komoditas lain seperti cabai merah dan bawang. (Databoks/Katadata, Kamis 19 Pebruari 2026) ([Databoks][1])
Kenaikan ini sekaligus menegaskan sifat dinamis dari harga pangan Indonesia, yang sangat responsif terhadap faktor musiman, permintaan, dan kondisi distribusi. Dalam konteks Bandung dan Jawa Barat secara umum, langkah berkelanjutan dalam penguatan rantai pasok dan monitoring harga oleh otoritas terkait akan menjadi kunci agar kenaikan harga ini tidak berubah menjadi krisis komoditas menjelang Ramadan.
Oleh : Dadan K. Ramdan, Wakil Ketua Bidang Litbang Asosiasi Peternak dan Pedagang Daging Sapi Segar Nusantara (APRESIASI NUSANTARA)













