Bandung — Suasana hangat buka puasa bersama dan silaturahmi keluarga besar Asosiasi Peternak dan Pedagang Daging Sapi Segar Nusantara (APRESIASI NUSANTARA) bersama mitra kerja pemerintah berkembang menjadi forum strategis penyamaan persepsi tata niaga daging nasional. Momentum tersebut tidak hanya menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga ruang konsolidasi sektor hulu hingga hilir.
Sebelum pembacaan deklarasi komitmen, peserta mendapatkan pemaparan langsung dari Dr. drh. Makmun, Direktur Hilirisasi Hasil Ternak pada Kementerian Pertanian Republik Indonesia, mengenai regulasi standarisasi harga bagian-bagian daging sapi impor (BX).

Dalam penjelasannya, ia memaparkan struktur pembentukan harga secara komprehensif. Mulai dari harga impor yang dipengaruhi musim hujan di negara asal dan fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat—yang secara historis disebut berada pada kisaran USD 3,7—hingga masuk ke rantai distribusi domestik. Proses tersebut mencakup tahapan di Rumah Potong Hewan (RPH), peran bandar, hingga terbentuknya harga di tingkat jongko atau pedagang eceran.
“Yang perlu dipahami bersama adalah bahwa harga tidak berdiri sendiri. Ada faktor global, kurs, distribusi, hingga biaya operasional di setiap mata rantai. Standarisasi ini justru untuk menciptakan transparansi dan kepastian usaha,” jelas Dr. Makmun dalam forum tersebut.

Diskusi semakin dinamis ketika forum membahas istilah “karkas” dan “prosotan”. Secara substansi keduanya memiliki kemiripan, namun berbeda pada kandungan dan bentuk karkasnya. Perbedaan pemahaman ini sempat memunculkan ragam pendapat di antara peserta, khususnya terkait implikasinya terhadap struktur harga dan praktik distribusi di lapangan.

Ketua Umum APRESIASI NUSANTARA, Ahmad Baehaqi Ar, menegaskan bahwa dinamika tersebut justru menjadi ruang edukasi bersama.

“Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam forum ilmiah dan usaha. Namun yang terpenting, kita memiliki komitmen yang sama untuk menjaga stabilitas dan berdiri tegak lurus pada regulasi pemerintah. Kita ingin ekosistem ini sehat, adil, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Setelah melalui dialog terbuka, forum akhirnya mencapai kesepahaman. Seluruh peserta sepakat mendukung implementasi regulasi sebagai pijakan bersama dalam menjaga tata niaga yang transparan dan terstandar.
Momentum tersebut kemudian ditutup dengan deklarasi komitmen APRESIASI NUSANTARA untuk terus menjadi mitra konstruktif pemerintah dalam membangun ekosistem daging nasional yang adil, berkelanjutan, serta berpihak pada keseimbangan kepentingan peternak, pedagang, dan konsumen.













