Diplomasi Prabowo di PBB: Pancasila, Palestina, Dan Hukum Tuhan

Jakarta,SwaraRakyat.com – Diplomasi yang menolak penindasan, membela hak bangsa tertindas, dan mengupayakan jalan damai sejatinya adalah implementasi murni dari nilai Pancasila yang bersumber dari iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Sidang Umum PBB 23 September 2025 menegaskan: pengakuan kenegaraan Palestina bukan hanya demi rakyat Palestina, tetapi juga demi masa depan Israel dan kredibilitas PBB. Pesan ini mengguncang forum internasional. Ia menegaskan bahwa keadilan tidak boleh dibangun dengan menghapus hak pihak lain. Di sinilah OST Jubedil menemukan relevansinya sebagai jembatan antara norma ilahi, nilai Pancasila, dan praktik politik dunia.

Prof. Eggi Sudjana melalui gagasannya, OST Jubedil, memberikan perangkat etis sekaligus metodologis untuk menafsirkan politik luar negeri yang beradab: objektif, sistematis, toleran, jujur, benar, dan adil. Dengan peran ganda sebagai Torikoh dan Uslub, ia meletakkan dasar iman dan takwa sebagai landasan diplomasi global.

Tak berlebihan jika Al-Qur’an mengingatkan: keberkahan dari langit dan bumi hanya akan turun bagi mereka yang beriman dan bertakwa. Pesan itu menohok, bahwa perdamaian sejati bukanlah sekadar hasil meja perundingan, melainkan buah dari kesetiaan manusia kepada hukum Tuhan.

Pidato Prabowo di PBB memberi pelajaran penting, ketika politik luar negeri Indonesia berakar pada Pancasila, ia mampu menghadirkan wajah meneduhkan bagi dunia. Namun jangan lupa pesan itu juga berlaku ke dalam negeri.

Indonesia hari ini masih dihantui hukum yang tumpul ke atas, tajam ke bawah. Itu bukan sekadar pengkhianatan terhadap rakyat, tetapi juga pengkhianatan terhadap Tuhan dan Pancasila itu sendiri. Jika dunia membutuhkan OST Jubedil untuk perdamaian global, maka Indonesia jauh lebih mendesak membutuhkannya untuk menata rumahnya sendiri.(sang)