Dosen Malaysia yang Pernah Sebut Orang Melayu Bisa Terbang Kini Tak Lagi Mengajar di UIAM

Dr. Solehah Yaacob, akademisi Malaysia yang menjadi sorotan setelah pernyataannya tentang sejarah dan tamadun Melayu menuai kontroversi. Masa kerjanya di UIAM berakhir pada 27 April 2026 dan kini ia berencana menggugat keputusan tersebut melalui Mahkamah Perusahaan Malaysia.

KUALA LUMPUR, SWARARAKYAT.COM – Nama Dr Solehah Yaacob kembali menjadi sorotan publik Malaysia setelah Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM) mengonfirmasi bahwa masa kerja akademiknya telah berakhir pada 27 April 2026.

Solehah sebelumnya dikenal luas setelah sejumlah pernyataannya mengenai sejarah dan tamadun Melayu menuai kontroversi, termasuk klaim bahwa masyarakat Melayu kuno memiliki kemampuan untuk “terbang” dan mengajarkan seni “kung fu terbang” kepada masyarakat Cina.

Pernyataan tersebut pernah diberitakan oleh media Malaysia, antara lain Scoop, yang pada Oktober 2025 melaporkan kontroversi mengenai klaim “ilmu terbang” bangsa Melayu. Dalam laporan itu, sejumlah akademisi menolak pemaknaan tersebut sebagai fakta sejarah.

Pengerusi Lembaga Pengelola Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Profesor Datuk Seri Dr Md Salleh Yaapar, mengatakan istilah “terbang” yang dimaksud dalam konteks tertentu dapat merujuk pada gerakan tendangan terbang dalam pencak silat, bukan kemampuan manusia untuk benar-benar terbang.

Menurutnya, upaya mengangkat kehebatan sejarah Melayu tetap harus dilakukan berdasarkan bukti dan tidak keluar dari konteks sejarah.

Kontroversi Solehah kemudian kembali mencuat ketika ia menyampaikan pandangan bahwa masyarakat Rom kuno mempelajari teknik pembuatan kapal dari pelaut Melayu.

UIAM pada November 2025 menyatakan telah membentuk panel inkuiri internal untuk meneliti pernyataan tersebut dari perspektif integritas akademik. Panel tersebut dipimpin Timbalan Rektor (Akademik & Pengantarabangsaan) UIAM, Ahmad Faris Ismail, bersama ahli sejarah Zaid Ahmad dan Dekan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) UIAM, Hazizan Noon.

UIAM Tegaskan Masa Kerja Berakhir 27 April

Dalam perkembangan terbaru, UIAM melalui Pejabat Komunikasi, Advokasi dan Promosi (OCAP) menegaskan bahwa hubungan kerja Solehah dengan universitas tersebut telah berakhir secara resmi pada 27 April 2026.

Universitas juga menyatakan Solehah tidak lagi memegang jabatan sebagai profesor di UIAM dan tidak mewakili universitas dalam kapasitas resmi apa pun. Ia juga tidak diperbolehkan menggunakan gelar, jabatan, nama kulliyyah, pusat, institut maupun unit lain yang dapat menunjukkan hubungan resmi dengan UIAM.

Namun, Solehah tidak menerima begitu saja keputusan tersebut.

Kepada Free Malaysia Today (FMT), ia mengaku pemutusan hubungan kerjanya dilakukan dalam waktu 24 jam dan dirinya tidak diberi kesempatan untuk mengajukan banding.

“Saya dipecat dalam tempoh 24 jam dan tidak dibenarkan buat rayuan,” kata Solehah sebagaimana dikutip FMT.

Ia juga mengungkapkan bahwa UIAM menawarkan kompensasi setara enam bulan gaji, tetapi tawaran tersebut ditolaknya.

Solehah menyatakan akan membawa persoalan pemutusan hubungan kerjanya ke Mahkamah Perusahaan Malaysia untuk mendapatkan keadilan.

Bukan Sekadar Soal “Melayu Bisa Terbang”

Kontroversi yang melibatkan Solehah sebenarnya tidak berhenti pada pernyataan tentang kemampuan “terbang”.

Sebelumnya, ia juga menjadi sorotan karena pernyataan mengenai teknologi pembuatan kapal bangsa Melayu, hubungan masyarakat Melayu dengan Rom kuno, serta sejumlah interpretasi lain mengenai sejarah dan tamadun Melayu.

Dalam pemberitaan FMT pada November 2025, UIAM menegaskan bahwa pandangan akademisi yang disampaikan secara pribadi tidak otomatis mewakili pendirian resmi universitas. UIAM juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kebebasan akademik dan tanggung jawab ilmiah.

Sementara itu, laporan terbaru Sinar Harian menegaskan bahwa status Solehah sebagai mantan akademisi UIAM berkaitan dengan berakhirnya masa kerja pada 27 April 2026, sedangkan sengketa mengenai proses pemutusan hubungan kerja kini hendak dibawa ke jalur hukum oleh Solehah.

Dengan demikian, klaim bahwa Solehah “dipecat karena mengatakan orang Melayu bisa terbang” perlu ditempatkan secara hati-hati. Sumber-sumber yang tersedia menunjukkan bahwa pernyataan tersebut merupakan salah satu bagian dari rangkaian kontroversi yang pernah melibatkannya, tetapi UIAM tidak secara eksplisit menyatakan bahwa pernyataan “Melayu bisa terbang” sebagai alasan tunggal pemutusan hubungan kerjanya.

Sumber: Free Malaysia Today (FMT), Sinar Harian, Scoop, dan pernyataan UIAM sebagaimana dikutip media Malaysia.