THAILAND, SWARARAKYAT.COM – Insiden penembakan massal mengguncang Sekolah Debsirin Nonthaburi di Provinsi Nonthaburi, Thailand, pada Jumat (7/8/2026). Berdasarkan perkembangan terbaru, sedikitnya tujuh orang tewas, termasuk pelaku yang diduga merupakan seorang siswa berusia 14 tahun.

Mengutip Reuters, aksi penembakan bermula dari kediaman pelaku, yang diduga lebih dahulu menembak mati kedua kakek-neneknya menggunakan pistol milik sang kakek sebelum menuju sekolah dan melepaskan tembakan secara membabi buta.
Di lingkungan sekolah, pelaku menewaskan lima staf sekolah serta melukai sedikitnya 23 orang lainnya. Sembilan korban dilaporkan berada dalam kondisi kritis dan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Setelah melakukan aksinya, pelaku mengakhiri hidupnya dengan menembak diri sendiri.
Insiden tersebut memicu kepanikan. Ratusan siswa berhamburan keluar dari gedung sekolah untuk menyelamatkan diri, sementara petugas medis dan kepolisian segera mengevakuasi korban luka menggunakan ambulans.
Kepolisian Thailand menyatakan pelaku melepaskan sedikitnya 26 tembakan dan masih membawa puluhan butir amunisi yang belum sempat digunakan. Aparat kini terus melakukan penyelidikan guna mengungkap secara utuh motif penembakan tersebut.
Otoritas mengungkapkan pelaku diduga mengalami tekanan terkait masalah akademik dan memiliki riwayat gangguan kesehatan mental. Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta menegaskan pemerintah akan memperketat regulasi kepemilikan senjata api menyusul tragedi tersebut.
Penembakan di Debsirin Nonthaburi menjadi salah satu insiden kekerasan bersenjata paling mematikan di Thailand dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa ini juga kembali memunculkan kekhawatiran mengenai tingginya kepemilikan senjata api di kalangan sipil dan efektivitas pengawasan terhadap akses senjata di negara tersebut. (*)













