Oleh: M. Husni Mubarok – MHM
(Alumni Pondok Pesantren Arrowiyah, Modung, Bangkalan)
Jakarta,SwaraRakyat.com – Jagad Nusantara kembali diguncang oleh sebuah tayangan televisi nasional yang dinilai menistakan kehormatan para kiai Nahdlatul Ulama dan lembaga pesantren. Dalam tayangan itu, sosok Al-Mukarrom KH. Anwar Manshur, Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, disebut dengan nada yang menyinggung marwah keulamaan.
Sebagai bagian dari keluarga besar pesantren, kami merasa terpanggil bukan sekadar untuk marah, tetapi meluruskan pandangan yang keliru tentang budaya pesantren dan nilai-nilai adab di dalamnya.
Feodalisme dan Adab Spiritualisme: Dua Dunia yang Berbeda
Banyak kalangan awam keliru memaknai sikap santri yang mencium tangan atau membungkuk di hadapan gurunya sebagai bentuk feodalisme. Padahal secara ilmiah dan teologis, keduanya berada di ranah yang berbeda.
Dalam kajian sosiologi klasik, feodalisme merupakan sistem sosial hierarkis yang menempatkan manusia dalam struktur kekuasaan yang tidak setara, di mana satu golongan menguasai golongan lain karena faktor keturunan, harta, atau kekuatan. Feodalisme menindas kebebasan berpikir dan menutup jalan meritokrasi.
Sementara itu, adab spiritualisme yang berkembang di pesantren justru berakar dari nilai-nilai egaliter Islam, di mana penghormatan kepada guru bukan karena status duniawi, tetapi karena keilmuannya dan peran spiritualnya sebagai pewaris para nabi (al-‘ulama waratsatul anbiya).
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis bahwa seorang murid wajib menghormati gurunya sebagaimana ia menghormati Nabi SAW, karena melalui gurulah ilmu disampaikan dan hati dibersihkan dari kebodohan. Adab semacam ini bukan tunduk pada manusia, tetapi tunduk kepada ilmu dan cahaya kebenaran yang Allah titipkan melalui sang guru.
Dalil dan Tradisi dalam Islam
Al-Qur’an menegaskan pentingnya adab terhadap ilmu dan pengajar dalam surah Al-Mujadalah: 11:
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Ayat ini menjadi landasan spiritual bahwa penghormatan terhadap guru bukanlah pengkultusan, melainkan pengakuan terhadap kemuliaan ilmu. Rasulullah SAW juga bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua kami, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak ulama kami.” (HR. Ahmad).
Dalam konteks inilah, tindakan santri yang mencium tangan gurunya bukanlah perbuatan feodal, melainkan implementasi ihsan, bentuk kesopanan batin yang menghubungkan ilmu dengan keberkahan.
Kritik Ilmiah terhadap Media dan Etika Publik
Dalam teori komunikasi modern, media massa memiliki tanggung jawab moral yang disebut social responsibility theory, yaitu kewajiban media untuk menyiarkan kebenaran secara seimbang, bukan sensasi yang memecah nilai sosial. Ketika media kehilangan kesadaran etik, maka lahirlah yang disebut media barbarism, peradaban informasi tanpa nurani.
Fenomena ini mulai tampak dalam berbagai tayangan yang membahas agama tanpa pemahaman epistemologis. Ketika tayangan beraroma religius disulap menjadi komoditas rating, maka nilai keagamaan berubah menjadi drama, bukan dakwah.
Media seharusnya menjadi cermin peradaban, bukan pisau yang mencederai keyakinan umat.
Mereka, Tim Trans7 dan netizen yang ikut menghujat kiai, lupa bahkan mungkin tidak memahami bahwa Indonesia ini dibangun atas dasar moral dan etika.
Bangsa ini lahir dari nilai-nilai kesantunan, gotong royong, dan rasa hormat kepada yang lebih tua, nilai-nilai yang sejalan dengan ajaran Islam dan tradisi pesantren. Tanpa moral dan etika, kemerdekaan hanyalah kebebasan yang liar tanpa arah.
Santri, Adab, dan Bangkitnya Kesadaran Nusantara
Pesantren telah berabad-abad menjadi benteng kebudayaan dan spiritual Nusantara. Di dalamnya tumbuh nilai-nilai kesederhanaan, nasionalisme, dan spiritualisme yang menjadi fondasi kebangkitan bangsa.
Dari pesantren lahir para pejuang kemerdekaan, ulama perintis pendidikan, dan tokoh-tokoh moral bangsa.
Maka, menjaga kehormatan pesantren bukan sekadar membela lembaga, tetapi juga membela akar kebangsaan Indonesia.
Feodalisme memang mematikan nurani, tetapi adab spiritualisme justru menghidupkan jiwa bangsa.
Jika bangsa ini ingin benar-benar merdeka, maka kemerdekaan itu harus disertai adab terhadap ilmu, guru, dan sesama anak negeri. Karena tanpa adab, ilmu menjadi bumerang, dan tanpa spiritualisme, kemerdekaan menjadi kering dari makna.(sang)
Wallahu a’lam bis-shawab.











