Generasi Baru Perlawanan: Bugar di Jalanan, Muak pada Kekuasaan

Jakarta,SwaraRakyat – Jalanan kembali bergemuruh. Dari wajah-wajah muda yang bugar, tegap, dan penuh semangat, lahir satu pesan tegas: Rakyat Muak Dengan Omon-Omon Kekuasaan. Aksi massa hari ini menampilkan fenomena baru demonstran hadir bukan dengan tubuh letih, melainkan dengan energi revolusioner yang sulit dipatahkan.

Fredi Moses Ulemlem, praktisi hukum sekaligus aktivis, menegaskan bahwa permintaan maaf Presiden RI Prabowo Subianto dan DPR tidak menyelesaikan akar persoalan.

“Rakyat butuh langkah kongkrit, bukan basa-basi. Minta maaf dan ucapkan belasungkawa tidak cukup untuk meredam kemarahan massa. Yang dibutuhkan adalah evaluasi kebijakan yang menyengsarakan rakyat, pembenahan institusi kepolisian, serta sanksi tegas bagi tujuh oknum aparat yang menabrak ojol pasca demo. Kalau hanya omon-omon, rakyat akan terus turun ke jalan,” ujar Fredi(30/8).

Menurutnya, aksi-aksi massa yang terus membesar harus menjadi dasar bagi eksekutif, legislatif, dan yudikatif untuk bercermin.

“Mereka semua harus sadar diri dan evaluasi diri, baik dalam tutur kata maupun perbuatan. Sebab rakyat sudah sangat muak. Yang membuat masyarakat tersinggung dan marah adalah kebijakan, keputusan, dan putusan yang mereka hasilkan. Masalah ekonomi, hukum, maupun politik yang salah urus itulah yang menjadi api dari gelombang perlawanan hari ini,” tegas Fredi.

Di lapangan, tubuh-tubuh muda itu menjadi senjata. Posko medis rakyat, konsumsi kolektif, dan solidaritas logistik menjadikan aksi bukan sekadar luapan marah, melainkan ruang hidup yang diorganisir. Bung Karno pernah berpesan:

“Bangunlah tubuhmu dan jiwamu, sebab di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang merdeka.” Spirit itu kini mewujud di jalanan.

“Masyarakat sekarang butuh eksen, bukan sekadar bicara. Kalau penguasa hanya bisa bicara besar, maka jangan salahkan rakyat bila tensinya makin naik. Lihat sendiri, kemarahan rakyat itu nyata dan tumpah di jalanan,” tambah Fredi.

Fenomena tubuh bugar pendemo adalah simbol bahwa rakyat tidak datang ke jalan dengan kondisi kalah. Mereka datang dengan tenaga, dengan nyali, dengan tubuh yang siap menantang. Sementara kekuasaan sibuk bicara dan minta maaf, rakyat menyiapkan langkah-langkah nyata di aspal.

Tubuh-tubuh itu kini adalah manifesto hidup. Selama kekuasaan hanya pandai beretorika, rakyat akan terus melangkah tegap, bugar, dan tak pernah tunduk.(sang)