Jakarta,SwaraRakyat.com – Harapan baru bagi terciptanya perdamaian di Timur Tengah dinilai masih menghadapi tantangan besar. Di tengah upaya Amerika Serikat (AS) dan Iran membuka kembali ruang diplomasi setelah bertahun-tahun berada dalam hubungan yang penuh ketegangan, eskalasi militer Israel di Lebanon Selatan dinilai berpotensi menghambat proses tersebut.
Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala, mengatakan bahwa langkah diplomasi yang ditempuh Washington dan Teheran merupakan perkembangan penting bagi upaya menurunkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
“Meski AS dan Iran telah menunjukkan kesediaan menempuh jalur diplomasi, prospek perdamaian di Timur Tengah masih menghadapi tantangan serius,” ujar Darmansjah dalam keterangannya di Jakarta,Selasa 23 Juni 2026.
Menurut mantan Duta Besar RI untuk Austria dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut, hubungan yang lebih konstruktif antara AS dan Iran berpotensi memperkuat stabilitas politik dan keamanan kawasan. Selain itu, keberhasilan diplomasi kedua negara dapat mengembalikan perundingan sebagai instrumen utama penyelesaian sengketa internasional.
Namun, optimisme tersebut, kata Darmansjah, menghadapi ujian setelah kembali terjadinya serangan militer Israel di Lebanon Selatan. Perkembangan ini dikhawatirkan dapat memperbesar ketegangan regional dan mempersempit ruang diplomasi yang sedang dibangun.
Bagi Iran, agresi Israel dipandang bukan hanya sebagai ancaman terhadap sekutu-sekutunya di kawasan, tetapi juga berpotensi mengganggu proses normalisasi hubungan dengan Amerika Serikat. Kondisi tersebut dapat memicu tekanan politik di dalam negeri Iran maupun di tingkat regional untuk meningkatkan respons terhadap perkembangan yang terjadi.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga menghadapi dilema. Sebagai sekutu strategis Israel, Washington dituntut menjaga hubungan bilateralnya, namun pada saat yang sama berupaya mempertahankan momentum diplomasi dengan Teheran.
Karena itu, Darmansjah menilai keberhasilan proses perdamaian sangat bergantung pada kemampuan seluruh pihak menahan eskalasi konflik dan memberikan ruang bagi diplomasi untuk bekerja secara efektif.
“Perdamaian membutuhkan lingkungan regional yang kondusif, pengendalian eskalasi, dan komitmen semua pihak untuk mengedepankan diplomasi dibandingkan penggunaan kekuatan militer,” tegasnya.
Dinamika Timur Tengah menunjukkan bahwa perdamaian tidak dapat dibangun hanya melalui kesepakatan politik atau kepentingan strategis semata. Diplomasi membutuhkan fondasi kepercayaan, konsistensi terhadap komitmen, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
Dalam kehidupan antarbangsa, sebagaimana dalam kehidupan antarmanusia, kejujuran, kesetiaan pada komitmen, dan keikhlasan merupakan nilai yang menjaga hubungan tetap kokoh. Sebaliknya, dominasi, ego, dan penggunaan kekuatan secara berlebihan kerap menjadi pemicu lahirnya konflik berkepanjangan.
Di tengah turbulensi politik, ekonomi, dan budaya yang melanda dunia, penyelesaian sengketa melalui dialog menjadi semakin penting. Kekuatan militer mungkin mampu menghentikan lawan untuk sementara, tetapi tidak selalu mampu melahirkan perdamaian yang berkelanjutan.
Karena itu, perdamaian sejati memerlukan lebih dari sekadar kesepakatan diplomatik. Perdamaian membutuhkan keberanian untuk menahan ego, menghormati hak setiap bangsa, serta membangun rasa saling percaya sebagai fondasi hubungan internasasional. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang pada akhirnya menjadi laku spiritual dalam kehidupan global, sekaligus menjadi penyangga peradaban agar tidak terus terjebak dalam siklus konflik yang berulang.(sang)













