Oleh: Adv. M. Taufik Umar Dani Harahap, SH (Koordinator Serikat Alumni USU)
Pendahuluan
Universitas Sumatera Utara (USU) bukan hanya institusi pendidikan tinggi pertama di Pulau Sumatera, tetapi juga monumen peradaban dan tonggak sejarah intelektual bangsa yang dibangun dari visi besar seorang negarawan: Gubernur Abdul Hakim Harahap. Dalam sejarah pembentukannya, kehadiran USU tidak dapat dilepaskan dari gagasan strategis dan kepemimpinan visioner Abdul Hakim Harahap, yang menempatkan pendidikan tinggi sebagai fondasi utama pembangunan Sumatera Utara pasca-kemerdekaan.
Mimpi Intelektual dari Tanah Andalas
Pada masa awal kemerdekaan, ketimpangan akses pendidikan tinggi di luar Jawa sangat terasa. Gubernur Abdul Hakim Harahap memahami bahwa pembangunan nasional tidak akan adil jika generasi muda di luar Jawa tidak memiliki akses yang setara terhadap pendidikan tinggi. Maka pada 4 Juni 1952, atas inisiatifnya, dibentuklah Panitia Persiapan Pendirian Universitas di Sumatera Utara, yang kelak melahirkan USU pada 20 Agustus 1952.
Langkah ini bukan sekadar respons terhadap kebutuhan lokal, melainkan pernyataan bahwa Sumatera Utara harus menjadi salah satu pusat intelektual nasional. Dalam pidato-pidatonya, Abdul Hakim Harahap menegaskan bahwa kemajuan suatu daerah bergantung pada kualitas manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan. USU adalah jawaban konkret terhadap gagasan itu.
USU: Manifestasi Perjuangan Rakyat dan Pemerintah Daerah
Tidak seperti banyak universitas yang dibangun oleh pemerintah pusat, USU berdiri dengan semangat kolektif masyarakat Sumatera Utara. Masyarakat, pemerintah daerah, tokoh adat, dan pemuda bergotong royong menghimpun dana dan lahan. Inilah simbol keterlibatan rakyat dalam membangun masa depan. Abdul Hakim Harahap sebagai Gubernur tidak hanya memainkan peran administratif, melainkan menjadi inspirator dan penggerak utama cita-cita bersama.
Fondasi Intelektual dan Pilar Perubahan
Dalam lintasan sejarahnya, USU telah mencetak ribuan sarjana, ilmuwan, dan pemimpin nasional yang membawa perubahan di berbagai sektor. Hal ini merupakan pengejawantahan dari cita-cita Abdul Hakim Harahap: menjadikan pendidikan sebagai alat perubahan sosial dan kemandirian daerah. Ia percaya bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi pusat dialektika, pembentukan karakter, dan pengabdian.
Si Opung Harahap Sangat Mengapresiasi Pemikiran Intelektual Untuk Kemajuan Sumatera Utara
Dalam banyak kesempatan, Gubernur Abdul Hakim Harahap—yang akrab disapa masyarakat dengan panggilan penuh hormat “Si Opung”—sering menegaskan pentingnya daya pikir sebagai sumber kekuatan bangsa. Bagi beliau, membangun Sumatera Utara bukan semata membangun jalan, jembatan, atau industri, tetapi membangun akal sehat, tradisi ilmiah, dan karakter generasi muda.
Opung sangat menyadari bahwa tanah Batak, tanah Melayu, tanah Mandailing, dan seluruh wilayah di Sumatera Utara memiliki potensi kultural dan intelektual yang luar biasa. Namun potensi itu harus dibangunkan lewat pendidikan tinggi, demikian salah satu kutipan yang diingat para tokoh sezamannya.
Kehadiran Universitas Sumatera Utara adalah bentuk apresiasi Si Opung terhadap pemikiran intelektual—yakni bahwa kemajuan suatu bangsa dimulai dari ruang kuliah, diskusi ilmiah, dan keberanian berpikir kritis. Tidak mengherankan jika beliau turut memfasilitasi dan mendorong keterlibatan para tokoh adat, agamawan, dan pemuda untuk bersatu dalam satu tujuan: membangun universitas sebagai benteng masa depan Sumatera Utara.
Semangat itu menjadikan USU sebagai institusi yang tidak hanya bertumpu pada kurikulum akademik, tetapi juga mewarisi semangat keilmuan dan keikhlasan membangun daerah yang pernah ditanamkan oleh Si Opung. Inilah bentuk nyata penghormatan beliau terhadap kekuatan pemikiran dan ilmu pengetahuan sebagai jembatan kemajuan sosial dan budaya Sumatera Utara.
*Warisan Kepemimpinan*
Warisan Gubernur Abdul Hakim Harahap tidak hanya terpatri pada prasasti atau nama jalan. Warisan sejatinya adalah hadirnya sebuah universitas yang hingga kini menjadi mercusuar ilmu pengetahuan di barat Indonesia. Visi dan semangatnya mewujudkan universitas sebagai kekuatan budaya dan pendorong kemajuan Sumatera Utara tetap relevan dan menjadi inspirasi kepemimpinan daerah masa kini.
*Penutup*
USU hari ini berdiri tegak bukan hanya karena kemegahan bangunannya, tetapi karena pijakan sejarah yang kuat: perjuangan, pengorbanan, dan mimpi besar seorang gubernur. Gubernur Abdul Hakim Harahap telah membuktikan bahwa pemimpin daerah yang berpikir jauh ke depan dapat mengubah nasib bangsanya melalui pendidikan. Maka sudah sewajarnya, USU terus menjaga marwah dan warisan intelektual ini demi Sumatera Utara yang lebih maju dan berdaulat dalam ilmu pengetahuan.
Demikian
Penulis Alumni Fakultas Hukum USU Stambuk’ 92 Dan Tercatat Sebagai Anggota Perkumpulan Parsadaan Harahap Dohot Anak Boruna Sejagat Raya.
_______
Referensi:
1. USU.ac.id – Situs resmi Universitas Sumatera Utara. Informasi sejarah pendirian USU dapat diakses melalui https://www.usu.ac.id/id/sejarah
2. Harahap, M. A. (2014). Abdul Hakim Harahap: Tokoh Pemersatu Sumatera dan Perintis Pembangunan. Medan: Pustaka Sumut.
3. Simanjuntak, R. (2006). Sejarah Perkembangan Pendidikan Tinggi di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas.
4. Pane, Todung Mulya Lubis (2004). Cendekiawan dan Politik dalam Dinamika Sumatera Utara. Jakarta: Kompas.
5. Harahap, Abdul Hakim. (1952). Pidato Gubernur pada Peresmian USU 1952 [Arsip Pemerintah Provinsi Sumatera Utara].
6. Ensiklopedi Tokoh Indonesia (2003). “Abdul Hakim Harahap – Pejuang dan Pembangun dari Sumatera.” Jakarta: PT Citra.
7. Hasibuan, A. (2020). “USU dan Pembangunan Sumut: Dari Gagasan hingga Realitas.” Jurnal Sejarah dan Peradaban, Vol. 8 No. 1.
8. Siregar, A. (2010). Pendidikan Tinggi dan Peran Daerah dalam Perkembangan Ilmu di Sumatera Utara. Medan: Yayasan Pendidikan Mandiri.













