Jakarta, Swararakyat.com — Ketua Umum Perserikatan Baramuda Indonesia (PBI), Ferdiansyah Rusman , mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak terpancing oleh ajakan makar atau upaya menggulingkan pemerintahan yang sah.
Saat diwawancarai Swararakyat.com (Rabu, 15/4/2026), Ferdiansyaho menegaskan bahwa stabilitas nasional harus dijaga di tengah meningkatnya dinamika politik saat ini.
“Generasi muda harus cerdas menyikapi situasi politik. Jangan mudah terpancing oleh narasi yang mengarah pada ajakan makar atau upaya inkonstitusional untuk menggulingkan pemerintah yang sah,” ujar Ferdiansyah.
Ia menilai, perbedaan pandangan politik merupakan hal wajar dalam sistem demokrasi. Namun, menurutnya, kritik harus disampaikan melalui mekanisme konstitusional, bukan melalui provokasi yang berpotensi memecah belah bangsa.
Pernyataan ini muncul di tengah menguatnya isu makar dalam ruang publik dan media sosial. Belakangan, polemik mencuat setelah pengamat politik Saiful Mujani dilaporkan ke kepolisian terkait dugaan makar usai pernyataannya mengenai kemungkinan menjatuhkan presiden menuai kontroversi.
Sejumlah kalangan menilai bahwa batas antara kritik dan makar menjadi isu krusial dalam demokrasi. Dalam perspektif hukum, tindakan makar diartikan sebagai upaya menggulingkan pemerintahan yang sah dan berada di luar koridor kebebasan berpendapat.
Di sisi lain, organisasi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil juga menyuarakan hal serupa. Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Nusantara (HMPN) optimistis masyarakat tidak akan mudah terprovokasi untuk melakukan tindakan ekstrem terhadap pemerintah.
Ferdiansyah menambahkan, generasi muda memiliki peran strategis sebagai penjaga demokrasi yang sehat. Ia mendorong agar ruang digital dimanfaatkan untuk edukasi politik yang konstruktif, bukan untuk menyebarkan narasi provokatif.
“Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan global dan nasional, sehingga diperlukan persatuan. Energi anak muda seharusnya diarahkan untuk membangun, bukan merusak tatanan demokrasi,” katanya.
Situasi politik nasional sendiri tengah diwarnai berbagai agenda strategis pemerintah, termasuk diplomasi internasional Presiden Prabowo Subianto dengan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas kerja sama energi di tengah dinamika geopolitik global.
Selain itu, isu kedaulatan dan kerja sama pertahanan juga menjadi perhatian publik, menyusul pembahasan awal antara Indonesia dan Amerika Serikat terkait akses penerbangan militer yang masih dalam tahap kajian pemerintah.
Ferdiansyah menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya menjaga persatuan nasional di tengah derasnya arus informasi.
“Perbedaan itu biasa, tapi jangan sampai dimanfaatkan untuk menciptakan instabilitas. Kita semua punya tanggung jawab menjaga keutuhan bangsa,” pungkasnya. (ESH)













