Opini  

Monetisasi Jahat: Saat Fitnah Jadi Industri dan Kebencian Jadi Komoditi.

Ilustrasi

Oleh: Effra S. Husein

Demokrasi kita sedang digadaikan. Bukan oleh kudeta senjata, melainkan oleh algoritma dan industri fitnah yang tumbuh di media sosial. Demokrasi Indonesia di Ujung Jari Algoritma

Media sosial yang awalnya dielu-elukan sebagai ruang demokrasi kini menjelma menjadi arena anarki. Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh data atau fakta, melainkan oleh seberapa banyak sebuah unggahan mendapat like dan share.

Di balik layar, ada logika monetisasi yang kejam: kemarahan dipelihara, kebencian dikomodifikasi, dan fitnah dijadikan industri. Engagement adalah mata uang baru, sementara kehancuran reputasi orang lain hanyalah collateral damage.

Fenomena ini bukan sekadar lucu-lucuan. Fitnah digital bisa membunuh karakter seorang individu, bahkan meruntuhkan wibawa sebuah negara.

Jika dulu gosip hanya beredar terbatas di warung kopi, kini dengan teknologi deepfake (satu suara atau potongan video editan) bisa menyebar ke jutaan ponsel hanya dalam hitungan detik.

Bangsa Indonesia, pernah mengajarkan dunia arti keberanian: menumbangkan seorang diktator dengan tangan kosong dan tekad yang bulat. Ironisnya, hari ini bangsa ini juga sedang mengajarkan kepada dunia sebuah pelajaran pahit: betapa rapuhnya demokrasi ketika teknologi disalahgunakan dan etika ditinggalkan.

Akun-akun anonim terus memproduksi konten tanpa peduli kebenaran. Mengapa? Karena ada uang di balik setiap klik. Karena algoritma justru memberi insentif pada konten yang memicu emosi. Karena kebohongan lebih “menguntungkan” daripada kebenaran.

Demokrasi Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Apakah kita rela membiarkan ruang digital dikuasai oleh industri fitnah, atau berani membangun kembali fondasi etika di tengah gelombang teknologi?

Sejarah pernah mencatat keberanian kita melawan kediktatoran. Kini, tantangannya berbeda: berani melawan algoritma, melawan arus monetisasi jahat, dan melawan manipulasi digital yang merampas masa depan demokrasi. (*)