Kuala Lumpur, Swararakyat.com – Sebuah momen istimewa terjadi di Rumah GAPENA, Bukit Petaling, Malaysia. Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura berkumpul dalam peluncuran antologi puisi lintas negara bertajuk Akar Serumpun Anyaman Rasa.
Acara ini menjadi simbol kuat persaudaraan dan kebersamaan bangsa-bangsa serumpun melalui bahasa dan seni. Peluncuran ini merupakan bagian dari Festival Puisi Suara Serumpun 2025, hasil kolaborasi antara Komunitas Galeri Sastra (KGS), SIP Publishing, Persatuan Penulis Negeri Melaka (PENAMA), dan Yayasan Rumah Indonesia Menulis.
Dari 4.000 Puisi, Lahir 25 Buku Antologi
Festival ini dimulai dengan webinar penulisan puisi bertema “Persahabatan”, diikuti lomba menulis yang menjaring lebih dari 4.000 naskah dari berbagai negara. Setelah melalui proses kurasi ketat, 2.033 puisi terpilih diterbitkan dalam 25 jilid antologi, menjadikannya salah satu proyek sastra terbesar di Asia Tenggara.
“Bahasa Melayu telah lama menjadi jembatan hati bangsa serumpun. Melalui puisi, kita bukan hanya berkongsi kata, tetapi juga rasa,” ungkap salah satu penggerak KGS saat sesi apresiasi.
Para Tokoh Sastra Serumpun Hadir
Hadir dalam acara peluncuran antara lain Indra Defandra (Direktur SIP Publishing), Ahmad Zauawi (Presiden PENAMA), dan Datuk Zainal Abidin bin Datuk Wira Borhan (Presiden GAPENA).
Dalam sambutannya, Datuk Zainal menegaskan pentingnya menumbuhkan kembali semangat Melayu serumpun.
“Kita berasal dari sumber yang sama. Pupuklah semangat akar serumpun agar kita menjadi bangsa besar,” ujarnya.
Peluncuran ditandai dengan pelepasan balon persaudaraan dan pengumuman 15 puisi terbaik serumpun yang memperebutkan total hadiah Rp10 juta.
Parade Puisi dan Penghargaan
Acara makin meriah dengan parade baca puisi dari empat negara. Eka Teresia dari Indonesia keluar sebagai Juara 1, disusul H. Rosli Bakir dan Usman Gumanti dari Malaysia.
Selain itu, penghargaan diberikan kepada para narasumber dan tokoh literasi yang aktif mendukung kegiatan sastra serantau sepanjang 2025.
Harmoni Sastra, Inspirasi Tak Berbatas
Festival ini tak sekadar selebrasi, tapi juga langkah konkret mempererat jejaring sastra ASEAN dan memperkuat identitas bahasa Melayu sebagai warisan bersama.
“Dari pentas Rumah GAPENA, gema Akar Serumpun Anyaman Rasa melintasi batas negara. Bahasa dan seni adalah akar yang menyatukan, bukan memisahkan,” tutur Indra Defandra.
Dengan semangat “Harmoni Sastra, Inspirasi Tak Berbatas”, karya ini menjadi bukti bahwa puisi masih mampu menyatukan hati bangsa-bangsa serumpun dalam satu napas: kebersamaan. (*)













