Jakarta, Swararakyat.com – Banjir bandang mematikan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang menewaskan lebih dari 800 orang kembali menyoroti industri sawit Indonesia.
Konversi hutan menjadi kebun sawit disebut sebagai salah satu faktor utama bencana tersebut. Di balik itu, sejumlah konglomerat besar menguasai lahan sawit raksasa, bahkan mencapai setengah juta hektare.
Berikut deretan 12 konglomerat penguasa sawit terbesar di Tanah Air, berdasarkan data terkini:
Martua Sitorus (Wilmar & KPN Corp): Pendiri Wilmar pada 1991, luas tanam 230.951 hektare (152.000 hektare di Indonesia). Kini fokus di KPN Corporation. Kekayaan: US$ 3,6 miliar.
Anthoni Salim (Indofood Agri Resources): Bos Indofood dengan lahan sawit 288.649 hektare di Sumatra dan Kalimantan. Kekayaan: US$ 12,8 miliar.
Sukanto Tanoto (Asian Agri): Raja pulp dan paper yang mengelola 100.000 hektare di Sumut, Riau, dan Jambi. Kekayaan: US$ 3,8 miliar.
Ciliandra Fangiono (First Resources): Pewaris sawit asal Riau dengan lahan lebih dari 200.000 hektare. Kekayaan: US$ 2,4 miliar.
Peter Sondakh (Rajawali Corpora): Melalui BWPT, menguasai 87.000 hektare. Kekayaan: US$ 3,3 miliar.
Theodore Rachmat (Triputra Agro Persada): Pemain besar dengan 160.000 hektare. Kekayaan: US$ 4,4 miliar.
Hashim Djojohadikusumo (Arsari Group): Adik Presiden Prabowo dengan lahan signifikan (tidak dipublikasikan luasnya). Kekayaan: US$ 11,3 triliun (2020), kemungkinan naik.
Putera Sampoerna (Sampoerna Agro): Mengelola 81.733 hektare, jauh dari bisnis rokok. Kekayaan: US$ 1,85 miliar.
Bachtiar Karim (Musim Mas): Raksasa sawit dengan 120.000 hektare, jarang tampil publik. Kekayaan: US$ 4,1 miliar.
Keluarga Widjaja (Sinar Mas / Golden Agri): Pemain terbesar dengan 536.000 hektare. Kekayaan: US$ 18,9 miliar.
Susilo Wonowidjojo (Makin Group): Dari Gudang Garam ke sawit, luas 140.000 hektare. Kekayaan: US$ 2,9 miliar.
Chairul Tanjung (CT Agro): “Anak singkong” dengan lahan tidak dipublikasikan luasnya. Kekayaan: US$ 4,5 miliar.
Industri sawit tetap menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, meski menuai kritik atas dampak lingkungan. Data ini bersumber dari laporan publik terkait kekayaan dan kepemilikan lahan. (*)













