Oleh: Ridwan 98
Ketua Umum GEMA PUAN
Jakarta,SwaraRakyat.com – Dalam dinamika politik nasional hari ini, tidak banyak tokoh yang mampu menjembatani dunia politik kekuasaan dengan kerja teknokratis yang nyata dan membumi. Salah satu figur yang patut dicermati secara serius adalah Raden Haidar Alwi (RHA), seorang teknokrat yang menjelma menjadi simbol praksis politik kerakyatan.
Publik mengenal RHA melalui gerakan “Rakyat Bantu Rakyat”, sebuah inisiatif yang melampaui slogan relawan. Gerakan ini hadir langsung menjawab persoalan rakyat, bekerja senyap namun berdampak. Tidak mengherankan jika kemudian bermunculan berbagai komunitas masyarakat bantu masyarakat yang mencoba mengikuti jejak dan semangat yang digagas RHA. Ini menandakan bahwa gagasannya telah hidup dan mengakar di tengah masyarakat.
Pada titik inilah RHA tidak lagi bisa diposisikan sebagai figur pinggiran. Ia adalah pemantik perubahan, katalis yang mempertemukan empati sosial dengan nalar kebijakan. Dalam percaturan politik nasional, sosok seperti ini jelas layak diperhitungkan.
Sebagai teknokrat profesional, kapasitas dan pengalaman RHA sejalan dengan kebutuhan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menuntut kerja cepat, presisi, dan berorientasi hasil. Saya meyakini, dengan ketajaman analisis serta kematangan gagasannya, RHA memiliki kemampuan untuk menata, membangun, bahkan melakukan pembenahan mendasar di sebuah kementerian atau lembaga negara.
Tulisan-tulisan RHA bukan sekadar opini bebas. Banyak di antaranya merupakan catatan strategis, kritik konstruktif, sekaligus tawaran solusi bagi perbaikan tata kelola pemerintahan dan kebijakan publik. Di tengah birokrasi yang kerap alergi terhadap kritik, keberanian intelektual semacam ini justru menjadi nilai tambah yang langka.
Akan sangat disayangkan bila negara mengabaikan sosok teknokrat profesional dengan daya dobrak gagasan seperti RHA. Lebih ironis lagi jika pemerintahan kehilangan figur yang siap bekerja nyata, bukan sekadar pandai beretorika.
Di ranah politik, RHA juga menunjukkan loyalitas dan militansi yang konsisten dalam memperjuangkan tokoh politik yang diyakininya, termasuk Presiden Prabowo Subianto. Loyalitas ini tidak diekspresikan secara membuta, melainkan melalui kerja, gagasan, dan keberpihakan yang tegas kepada kepentingan rakyat.
Catatan ini bukan sekadar pujian personal, melainkan alarm politik. Semoga Presiden Prabowo berkenan membaca tanda zaman: bahwa di luar lingkar kekuasaan formal, terdapat figur seperti Raden Haidar Alwi yang siap masuk ke gelanggang pemerintahan, bekerja, membenahi, dan membuktikan.
Sebab bangsa besar tidak hanya membutuhkan pemimpin yang kuat, tetapi juga teknokrat yang berani, loyal, dan berpihak pada rakyat.(sang)













