Jakarta,SwaraRakyat.com – Ketika dunia modern berbicara tentang geopolitik dengan bahasa kekuatan militer, teknologi, dan energi, bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki fondasi geopolitik yang jauh lebih tua dan mendalam: peradaban agraris yang membentuk kemandirian, solidaritas sosial, serta harmoni antara manusia dan alam. Dari sawah-sawah di Jawa Barat hingga ladang tradisional di Papua, tradisi pertanian Nusantara bukan sekadar cara menghasilkan pangan, tetapi juga merupakan sistem nilai yang memperkokoh ketahanan bangsa.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Gede Pasek Suardika (GPS), pada kamis 12/03/2026 di Jakarta menilai bahwa kearifan agraris yang hidup di berbagai wilayah Indonesia merupakan bagian dari budaya geopolitik Nusantara, khususnya dalam sektor pertanian yang menjadi fondasi ketahanan pangan nasional.
Menurut GPS, sejarah panjang pertanian Nusantara menunjukkan bahwa rakyat Indonesia telah lama memiliki kemampuan untuk mengelola sumber daya alam secara mandiri.
“Tradisi pertanian Nusantara bukan sekadar kegiatan ekonomi, tetapi merupakan kekuatan geopolitik bangsa. Dari situlah lahir ketahanan pangan, kemandirian ekonomi rakyat, dan semangat gotong royong yang menjadi karakter bangsa,” ujar GPS.
Peradaban Agraris sebagai Fondasi Ketahanan Pangan
Bentang alam Nusantara yang luas dan beragam melahirkan sistem pertanian yang berbeda di setiap wilayah. Keragaman tersebut justru menjadi kekuatan strategis dalam membangun ketahanan pangan nasional.
Di Jawa Barat, masyarakat sejak lama mengembangkan sistem sawah di dataran rendah serta ladang huma di kawasan pegunungan. Tradisi ini bahkan tercatat dalam naskah Sunda kuno Siksa Kandang Karesian yang menjelaskan tata cara pengelolaan tanah, pembagian wilayah, hingga prinsip pengaturan lahan yang adil bagi masyarakat.
Sementara dalam naskah Babat Makuluhuan melalui ajaran Cupu Mustikaning Jagad, padi dipandang sebagai pusaka kehidupan.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa bagi masyarakat Nusantara, pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi merupakan fondasi keberlanjutan kehidupan.
Tradisi agraris ini masih bertahan melalui komunitas adat seperti Kesepuhan Sinar Resmi di Kabupaten Sukabumi yang tetap mempertahankan sistem pertanian tradisional dengan ritual adat serta penggunaan pupuk alami.
Bali dan Harmoni Pertanian
Di Bali, masyarakat mengembangkan sistem irigasi tradisional Subak yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Subak bukan hanya sistem pengairan, tetapi juga organisasi sosial yang mengatur pembagian air secara adil serta menjaga keseimbangan ekologi.
Sistem ini berakar pada filosofi Tri Hita Karana, yakni harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.
Dalam perspektif budaya geopolitik Nusantara, sistem Subak menunjukkan bagaimana pertanian dapat menjadi pilar penting dalam menjaga stabilitas sosial sekaligus ketahanan pangan.
Sumatera: Sawah, Rawa, dan Tanah Adat
Di Sumatera, masyarakat mengembangkan sistem pertanian yang menyesuaikan dengan kondisi alam yang beragam.
Di Sumatera Barat, masyarakat Minangkabau mengelola sawah melalui sistem tanah adat berbasis nagari yang menjaga distribusi lahan secara kolektif.
Sementara di Sumatera Selatan, petani memanfaatkan sistem pertanian lebak yang mengikuti siklus air alami di kawasan rawa.
Kearifan lokal ini memungkinkan masyarakat memproduksi pangan tanpa merusak keseimbangan lingkungan.
Kalimantan: Ladang dan Keseimbangan Hutan
Di Kalimantan, masyarakat adat Dayak mengembangkan sistem ladang berpindah atau huma.
Sistem ini sering disalahpahami sebagai praktik perusakan hutan, padahal dalam tradisi lokal justru merupakan metode pengelolaan ekologi yang menjaga keseimbangan antara kebutuhan pangan dan kelestarian alam.
Dengan membuka lahan secara terbatas lalu membiarkannya pulih kembali, masyarakat menjaga kesuburan tanah secara alami.
Sulawesi dan Pertanian Pegunungan
Di Sulawesi, masyarakat juga mengembangkan sistem pertanian yang adaptif terhadap kondisi geografis.
Di wilayah Tana Toraja misalnya, sawah-sawah dibangun secara terasering mengikuti kontur pegunungan.
Sistem ini menunjukkan kemampuan masyarakat lokal dalam memanfaatkan kondisi alam secara optimal sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Papua: Kebun Tradisional dan Ketahanan Komunitas
Di Papua, masyarakat adat mengembangkan pertanian berbasis ubi jalar sebagai sumber pangan utama.
Kebun-kebun tradisional dibangun dengan pagar alami untuk melindungi tanaman serta mengatur rotasi tanam.
Dalam tradisi masyarakat Papua, kegiatan bertani tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan, tetapi juga memperkuat hubungan sosial serta identitas komunitas.
Berdikari dan Geopolitik Pangan
Menurut GPS, keragaman sistem pertanian Nusantara tersebut mencerminkan filosofi Berdikari yang pernah diajarkan oleh Soekarno.
Bung Karno menegaskan bahwa bangsa yang merdeka harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, terutama dalam sektor ekonomi yang menyangkut kebutuhan dasar rakyat.
Dalam konteks modern, ketahanan pangan merupakan bagian penting dari kedaulatan bangsa.
“Bangsa yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan selalu bergantung pada negara lain. Itulah sebabnya pertanian harus menjadi pilar utama pembangunan nasional,” kata GPS.
Pelajaran dari Iran
GPS juga menilai pengalaman Iran sejak peristiwa Iranian Revolution menunjukkan bagaimana sebuah bangsa dapat bertahan di tengah tekanan global dengan memperkuat kemandirian nasional.
Menurutnya, tekanan eksternal justru dapat menjadi momentum bagi sebuah negara untuk memperkuat sektor strategis, termasuk pangan.
Gotong Royong sebagai Energi Kebangkitan
Lebih jauh GPS menegaskan bahwa kebangkitan Indonesia harus dibangun melalui semangat gotong royong yang telah lama menjadi karakter masyarakat Nusantara.
“PKN ingin membangun kebangkitan bangsa dengan jiwa kebersamaan yang selaras. Gotong royong adalah energi sosial Nusantara. Dari desa, dari sawah, dari ladang, kekuatan bangsa itu lahir,” ujarnya.
Sawah Nusantara dan Masa Depan Bangsa
Keragaman tradisi pertanian di Jawa Barat, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua menunjukkan bahwa Nusantara memiliki sistem peradaban yang kuat dalam mengelola sumber daya alam.
Dalam perspektif budaya geopolitik Nusantara, sektor pertanian bukan sekadar kegiatan ekonomi rakyat, tetapi merupakan pilar strategis yang memperkokoh ketahanan pangan nasional.
Sawah, ladang, dan kebun rakyat adalah benteng pertama kedaulatan bangsa.
Selama rakyat Nusantara mampu menjaga tradisi kemandirian, gotong royong, serta keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri, maka harapan tentang kebangkitan Indonesia akan terus hidup, ditanam, dirawat, dan diwariskan dari tanah Nusantara.(sang)













