Mantan Presiden Armenia Robert Kocharyan Ditahan dalam Kasus Korupsi

YEREVAN, SWARARAKYAT.COM — Mantan Presiden Armenia Robert Kocharyan ditahan aparat penegak hukum pada Selasa, 25 Agustus 2026, dalam penyidikan kasus dugaan korupsi yang terjadi selama dirinya menjabat sebagai presiden.

Kocharyan, 71 tahun, didakwa melakukan penyalahgunaan kekuasaan, penyuapan, dan pencucian uang dalam jumlah besar. Ia disebut menggunakan jabatannya untuk memperoleh sejumlah aset milik negara dengan harga jauh di bawah nilai pasar.

Kocharyan merupakan Presiden Armenia periode 1998-2008. Setelah tidak lagi menjabat, ia tetap aktif dalam politik dan kini memimpin Armenia Alliance, salah satu blok oposisi terbesar di parlemen Armenia.

Diduga Kuasai Aset Negara

Komite Antikorupsi Armenia menyatakan penyelidikan menemukan dugaan bahwa Kocharyan, bersama sejumlah orang yang dekat dengannya, menggunakan posisi sebagai presiden untuk memindahkan sejumlah properti bernilai tinggi dari kepemilikan negara.

Aset-aset tersebut diduga diperoleh melalui berbagai alasan yang direkayasa dan dibeli dengan harga yang jauh lebih rendah daripada nilai pasarnya.

Untuk menyembunyikan kepemilikan sebenarnya dan asal-usul aset tersebut, properti diduga didaftarkan atas nama perusahaan yang berafiliasi dengan Kocharyan dan orang-orang dekatnya. Aset kemudian dikembangkan, dijual, dialihkan kepada pihak lain, atau kepemilikan saham perusahaan pemilik aset dipindahkan.

Salah satu dugaan yang tengah diselidiki adalah penjualan sebidang tanah milik Kementerian Pertahanan Armenia kepada perusahaan yang terhubung dengan orang dekat Kocharyan. Tanah tersebut disebut dijual hanya sekitar seperempat dari nilai pasarnya.

Penyidik juga menyebut terdapat 56 properti dengan nilai sekitar 2,634 miliar dram Armenia atau sekitar US$7,2 juta yang diduga dialihkan kepada Kocharyan sebagai suap.

Anak Kocharyan Ikut Ditahan

Selain Robert Kocharyan, putra sulungnya, Sedrak Kocharyan, juga ditahan dalam perkara yang sama.

Secara keseluruhan, aparat Armenia menahan enam orang dalam penyidikan tersebut. Sedrak kemudian menghadapi permintaan penahanan praperadilan selama dua bulan dari penyidik.

Penyidik juga tengah memeriksa aliran dana dalam jumlah sangat besar yang disebut berkaitan dengan Sedrak Kocharyan, termasuk transaksi dalam berbagai mata uang serta kepemilikan sejumlah properti di Armenia dan luar negeri.

Mantan Presiden Armenia lainnya, Serzh Sargsyan, yang pernah menjadi perdana menteri di bawah Kocharyan sebelum menjabat presiden pada 2008-2018, juga disebut menghadapi dakwaan terkait penyalahgunaan kekuasaan dalam perkara tersebut dan telah dipanggil untuk memberikan keterangan.

Baca Juga: Kasus Nicko: Kegagalan Bisnis Dianggap Korupsi? Benarkah?

Kocharyan Dibawa ke Rumah Sakit

Setelah ditahan, kondisi kesehatan Kocharyan dilaporkan memburuk. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan setelah mengalami tekanan darah tinggi.

Pihak Kocharyan menyebut mantan presiden tersebut baru menjalani prosedur medis dan dokter menilai pemeriksaan tambahan diperlukan.

Sementara itu, kubu Kocharyan membantah karakterisasi kasus tersebut sebagai proses hukum yang murni. Armenia Alliance menyebut penahanan itu sebagai serangan politik terhadap Kocharyan dan keluarganya serta menuding pemerintah melakukan pembalasan terhadap lawan politik.

Berlatar Ketegangan Politik

Penahanan Kocharyan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara pemerintah Perdana Menteri Nikol Pashinyan dan kelompok oposisi yang dipimpin Kocharyan.

Kocharyan dikenal sebagai tokoh yang lebih dekat dengan Rusia, sementara pemerintahan Pashinyan dalam beberapa tahun terakhir mendorong hubungan yang lebih erat dengan Uni Eropa dan mengurangi ketergantungan Armenia terhadap Moskwa.

Penahanan itu juga terjadi kurang dari 24 jam setelah Pashinyan terlibat perdebatan sengit di parlemen dengan Levon Kocharyan, putra Robert Kocharyan yang merupakan anggota parlemen oposisi.

Karena latar politik tersebut, para pendukung Kocharyan menilai kasus korupsi ini bermotif politik. Namun, pemerintah Armenia menyatakan perkara tersebut merupakan proses penegakan hukum dan penyelidikan atas dugaan penyalahgunaan aset negara.

Kocharyan sendiri sebelumnya pernah menghadapi proses hukum terkait kerusuhan pascapemilu 2008 yang menewaskan sedikitnya 10 orang. Ia sempat diadili, tetapi proses perkara tersebut berakhir pada 2021 setelah dakwaan terhadapnya dihentikan.

Dengan demikian, Robert Kocharyan saat ini berstatus sebagai tersangka/terdakwa dalam perkara dugaan korupsi, bukan telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Proses hukum dan pembuktian atas seluruh tuduhan tersebut masih berlangsung.(Red)