Perang Dingin! Ketum dan Sekjen PBNU Tak Saling Sapa di Podium

JOMBANG, SWARARAKYAT.COM — Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, diselimuti sorotan hangat publik. Hal ini terjadi setelah Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf (Gus Ipul), tidak menyebutkan nama Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat menyampaikan pidato laporan panitia dan sapaan penghormatan.

Dalam pidato sambutannya di hadapan ribuan muktamirin dan tamu undangan, Gus Ipul mengawali penghormatan kepada jajaran pejabat negara serta ulama sepuh yang hadir.

“Hampir seluruh tokoh alim ulama dan tokoh-tokoh utama Nahdlatul Ulama hadir di tempat ini, Bapak Presiden,” kata Gus Ipul. Ia melanjutkan sapaan khidmatnya dengan menyebut sejumlah kiai sepuh, seperti KH Nurul Huda Djazuli dan KH Said Aqil Siradj, serta menyapa jajaran jajaran pemerintahan dari Presiden hingga para menteri.

Namun, hingga akhir laporan terkait kesiapan fisik, logistik, dan teknis acara, nama KH Yahya Cholil Staquf sama sekali tidak terucap dari pengeras suara.

Pesan “Pengurus Secukupnya, NU Selamanya”

Selain kejanggalan protokol tersebut, pernyataan Gus Ipul di atas panggung juga dinilai sarat makna. Di tengah laporannya, ia menggarisbawahi hakikat pengabdian di tubuh organisasi berbendera bola dunia tersebut.

“Dadi [jadi] pengurus secukupnya, tapi NU selamanya,” ujar Gus Ipul menegaskan. Kalimat ini langsung disambut riuh tepuk tangan peserta forum.

Baca Juga: Muktamar NU Hari Ini: Bursa Ketum PBNU Memanas, Arah Nahdliyin Jadi Sorotan

Tak kalah, Gus Yahya juga disebut tidak menyapa nama Gus Ipul dalam pidatonya. Momen ini memunculkan spekulasi mengenai hubungan kedua tokoh tersebut di tengah dinamika Muktamar NU ke-35. 

Memicu Spekulasi Ketegangan

Langkah Gus Ipul yang melewatkan penyebutan nama Ketum PBNU secara mendadak memantik spekulasi di kalangan muktamirin dan pengamat politik keagamaan. Publik menilai kejadian tersebut mengonfirmasi adanya dinamika hubungan yang merenggang di jajaran puncak Tanfidziyah PBNU menjelang pemilihan pimpinan baru.

Secara etika keprotokolan organisasi NU, penyebutan Rais Aam sebagai pimpinan Syuriyah dan Ketua Umum sebagai pucuk pimpinan Tanfidziyah merupakan tradisi baku dalam forum resmi. Melewatkan nama Ketua Umum dinilai tidak biasa dan menunjukkan eskalasi persaingan antar-faksi yang belum sepenuhnya mereda.

Hingga pembukaan selesai, pihak panitia maupun Gus Ipul belum memberikan klarifikasi resmi mengenai apakah hal tersebut murni kehilafan teknis panggung atau kesengajaan sikap politik.(Red)