JAKARTA, SWARARAKYAT.COM – Luas panen padi nasional pada Juli 2026 tercatat sekitar 0,93 juta hektare. Angka tersebut menurun 1,05 persen dibandingkan Juli 2025.
Baca Juga: Harga Daging Ayam Naik, Jadi Penyumbang Utama Inflasi Agustus 2026
Data Badan Pusat Statistik (BPS) itu menunjukkan aktivitas panen padi pada pertengahan tahun ini mengalami sedikit tekanan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, penurunan Juli belum mengubah gambaran luas panen secara kumulatif. BPS memperkirakan potensi luas panen padi pada Agustus hingga Oktober 2026 mencapai 3,07 juta hektare.
Baca Juga: Penumpang Pesawat Naik 6,91 Persen, BPS Catat 5 Juta Orang pada Juli 2026
Meski demikian, angka tersebut diperkirakan turun 1,29 persen dibandingkan periode Agustus–Oktober 2025.
Jika realisasi panen hingga Juli digabungkan dengan potensi panen tiga bulan berikutnya, luas panen padi Januari–Oktober 2026 diperkirakan mencapai 10,31 juta hektare.
Angka tersebut nyaris tidak berubah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara tahunan, luas panen Januari–Oktober 2026 diperkirakan naik tipis 0,01 persen.
BPS mengingatkan, angka potensi Agustus–Oktober masih dapat berubah. Kondisi lapangan menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi realisasi panen.
Sejumlah faktor yang dapat mengubah potensi tersebut antara lain serangan hama dan organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu realisasi panen petani.
Dengan demikian, angka 3,07 juta hektare untuk periode Agustus–Oktober belum dapat diperlakukan sebagai angka final. Data tersebut merupakan potensi yang masih akan mengikuti perkembangan kondisi pertanian di lapangan.
Di tengah kebutuhan menjaga pasokan pangan nasional, perkembangan luas panen menjadi indikator penting yang perlu dicermati. Penurunan pada Juli dan potensi penurunan pada tiga bulan berikutnya menunjukkan bahwa dinamika produksi padi tetap perlu mendapat perhatian.
Meski secara kumulatif Januari–Oktober masih diproyeksikan relatif stabil, selisih yang sangat tipis dibandingkan tahun sebelumnya membuat kondisi panen dalam beberapa bulan ke depan menjadi bagian penting dalam melihat arah produksi pangan nasional. (*)













