Kawal Gede Pasek ke Puncak Gunung Padang, Soegiarto Santoso: Kebangkitan Nusantara Butuh Keselarasan Langkah

Cianjur,SwaraRakyat.com — Ketua Pimpinan Nasional (PIMNAS) Generasi Kebangkitan Nusantara (GKN), Soegiarto Santoso, S.E., bersama jajaran GKN mengawal Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Gede Pasek Suardika, hingga ke puncak Situs Purba Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-5 PKN pada 23 Oktober 2026. Momentum tersebut menjadi refleksi tentang pentingnya soliditas organisasi, keteguhan dalam menghadapi tantangan, dan kesiapan menatap masa depan.

Soegiarto memaknai perjalanan menuju puncak Gunung Padang sebagai gambaran perjuangan yang membutuhkan keselarasan langkah, kesabaran, dan komitmen bersama. Menurutnya, tujuan besar tidak cukup dicapai melalui semangat individual, tetapi membutuhkan dukungan kolektif serta fondasi organisasi yang kuat.

“Bagi kami, perjalanan ke puncak Gunung Padang bukan sekadar perjalanan fisik. Kita tidak bisa hanya berbicara tentang puncak atau tujuan akhir. Kita juga harus menghargai setiap proses, setiap tahapan, dan setiap orang yang berjalan bersama kita,” ujar Soegiarto.

Soegiarto: Soliditas Harus Menjadi Kerja Nyata

Menurut Soegiarto, kebersamaan jajaran GKN dalam mengawal Gede Pasek hingga ke puncak Gunung Padang mencerminkan pentingnya dukungan terhadap kepemimpinan dan tanggung jawab bersama dalam perjalanan organisasi.

Ia menegaskan, soliditas tidak cukup ditampilkan melalui seremoni atau pertemuan. Soliditas harus tercermin dalam konsistensi menjaga kepercayaan, kesediaan saling mendukung, serta kemampuan mempertahankan arah perjuangan ketika menghadapi tantangan.

“Dalam sebuah perjalanan, ada yang berada di depan untuk memimpin arah, tetapi perjalanan itu tetap membutuhkan orang-orang yang berjalan bersama. Yang penting adalah bagaimana semua bisa menjaga keselarasan langkah, saling menghormati peran, dan tidak melupakan tujuan yang hendak dicapai,” katanya.

Bagi Soegiarto, semangat kebangkitan Nusantara harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Perbedaan peran dan latar belakang tidak semestinya menghalangi upaya membangun tujuan bersama.

“Kita boleh memiliki latar belakang, pengalaman, dan peran yang berbeda, tetapi kita harus mampu menyelaraskan langkah ketika berbicara tentang kepentingan yang lebih besar,” tegasnya.

Gede Pasek: PKN Harus Optimistis Menghadapi Pemilu 2029

Pesan tentang soliditas tersebut sejalan dengan sambutan Gede Pasek Suardika dalam peringatan HUT ke-5 PKN. Ia menegaskan bahwa usia lima tahun merupakan fase awal perjalanan partai politik yang masih membutuhkan penguatan organisasi dan persiapan berkelanjutan.

Gede Pasek mengingatkan bahwa pengalaman PKN mengikuti pemilu sebelumnya harus menjadi modal untuk menghadapi tantangan menuju Pemilu 2029. Dengan waktu persiapan yang lebih panjang, ia mendorong seluruh jajaran partai untuk bekerja lebih terencana dan menjaga keyakinan terhadap target organisasi.

“Dulu saja, dengan persiapan mendadak, kita bisa ikut pemilu. Saya kira hari ini persiapan lebih panjang, kita sangat yakin kita juga akan lolos,” ujar Gede Pasek dalam sambutannya.

Ia juga mengakui bahwa perjalanan partai tidak selalu mudah. Dinamika organisasi dan tantangan dalam menghadapi tahapan pemilu membutuhkan ketahanan serta semangat gotong royong seluruh jajaran.

Karena itu, Gede Pasek meminta para kader tidak terjebak dalam pesimisme, tetapi tetap memusatkan perhatian pada persiapan konkret untuk menghadapi agenda politik mendatang.

“Kita semua harus berpikir positif, berpikir tenang, dan berpikir berhasil. Berhasil, berhasil, dan berhasil,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menempatkan optimisme sebagai modal mental yang harus berjalan beriringan dengan konsolidasi dan kesiapan organisasi. Target menuju Pemilu 2029, dengan demikian, memerlukan kerja nyata, bukan sekadar keyakinan.

Gunung Padang, Merawat Sejarah dan Menyiapkan Masa Depan

Soegiarto menilai, pemilihan Situs Purba Gunung Padang sebagai lokasi peringatan HUT ke-5 PKN memiliki makna reflektif. Warisan sejarah dan kebudayaan Nusantara dapat menjadi pijakan untuk membangun identitas sekaligus menyiapkan masa depan.

Menurutnya, menghormati sejarah bukan berarti terpaku pada masa lalu. Nilai-nilai yang diwariskan harus menjadi inspirasi untuk menghadapi perubahan dan menjaga kesinambungan perjuangan antargenerasi.

“Tidak ada perjalanan besar yang bisa dibangun dengan tergesa-gesa. Kita harus tahu dari mana kita berangkat, memahami pijakan yang kita miliki, dan menentukan arah yang ingin dituju. Sejarah harus dihormati, fondasi harus dijaga, dan masa depan harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh,” tutur Soegiarto.

Ia menambahkan bahwa perjalanan menuju puncak menjadi pengingat bahwa setiap tujuan membutuhkan proses yang harus dijalani dengan kesabaran dan tanggung jawab.

“Jangan sampai kita memiliki cita-cita yang tinggi, tetapi melupakan pijakan. Sebaliknya, jangan pula kita terlalu terpaku pada masa lalu hingga tidak berani melangkah ke depan. Kita harus mampu merawat sejarah sekaligus menyiapkan masa depan,” ungkapnya.

Keselarasan Langkah untuk Kebangkitan Nusantara

Peringatan HUT ke-5 PKN di Gunung Padang mempertemukan dua pesan yang saling melengkapi. Gede Pasek menekankan optimisme dan kesiapan partai menghadapi Pemilu 2029, sedangkan Soegiarto menggarisbawahi pentingnya soliditas, keselarasan langkah, dan tanggung jawab bersama dalam perjalanan organisasi.

Bagi Soegiarto, kebangkitan Nusantara tidak cukup berhenti sebagai gagasan atau slogan. Semangat tersebut perlu diwujudkan melalui komitmen yang berkelanjutan, kepemimpinan yang memiliki arah, serta organisasi yang mampu menjaga fondasinya ketika menghadapi berbagai tantangan.

“Jangan hanya bertanya seberapa tinggi puncak yang ingin kita capai. Kita juga harus bertanya seberapa kuat fondasi yang kita bangun dan seberapa solid kita berjalan bersama. Sebab, tujuan besar akan lebih bermakna ketika dicapai melalui proses yang dijaga bersama dan hasilnya dapat diteruskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.

Dirgahayu ke-5 Partai Kebangkitan Nusantara. Merawat sejarah, menyelaraskan langkah, dan menyiapkan masa depan Nusantara.(sang)