Bambang ‘Patjul’ Wuryanto di Senayan: “Konstitusi Harus Hidup Bersama Rakyat, Bukan Membatu!”

Jakarta,SwaraRakyat  – Bangsa ini tidak boleh membiarkan konstitusinya membatu! Seruan itu menggema dari ruang Nusantara V, Kompleks Parlemen, ketika Wakil Ketua MPR RI Bambang “Pacul” Wuryanto angkat suara dalam seminar konstitusi bertema “Dialektika Konstitusi: Refleksi UUD NRI Tahun 1945 Menjelang 25 Tahun Reformasi Konstitusi” pada 22 Agustus 2025.

Dengan gaya lugas khasnya, Pacul menohok rasa takut elit pada perubahan.
“Konstitusi itu bukan kitab suci! Ia buatan manusia, penuh keterbatasan. Kalau rakyat berkembang, kalau zaman berubah, maka konstitusi pun harus ikut hidup bersama rakyatnya!” tegasnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Pernyataan ini segera jadi sorotan publik. Bambang Pacul tampil bukan sekadar politisi Senayan, melainkan sosok Marhaenis sejati yang menyalakan kembali api semangat Bung Karno:

“Bahwa Politik Adalah Alat Perjuangan, Bukan Kursi Kekuasaan”

“Jangan takut dengan amandemen. Yang penting, perubahan itu untuk rakyat, bukan untuk segelintir elite,” lanjutnya. Nada suaranya meninggi, seakan hendak menembus dinding Senayan yang kerap dituding jauh dari aspirasi wong cilik.

Amandemen sebagai Keniscayaan

Diskusi ini digelar menjelang 25 tahun reformasi konstitusi. Hadir tokoh-tokoh penting seperti mantan Ketua MK Prof. Jimly Asshiddiqie dan Wakil Ketua MK Prof. Saldi Isra, yang sama-sama menekankan bahwa amandemen bukan barang haram, melainkan langkah korektif bagi kelemahan UUD 1945 hasil reformasi.

Namun, di tengah bahasa akademik para pakar, suara Bambang Pacul tampil berbeda. Ia berbicara dengan lidah rakyat. Ia mengingatkan, bangsa ini tidak boleh memuja teks dan melupakan nasib wong cilik yang seharusnya dilindungi konstitusi.

Lidah Marhaen di Parlemen

Ucapan Pacul menyentak memori publik akan semangat Bung Karno: “Politik bukan tujuan, melainkan jalan untuk kesejahteraan rakyat.” Sikapnya yang blaka suta dan membumi membuat publik menilai, MPR akhirnya memiliki figur yang berani berdiri di tengah elite, namun berpihak pada rakyat.

“Konstitusi harus menjadi rumah besar rakyat, bukan tembok yang memisahkan rakyat dari penguasa,” tutup Bambang Pacul.

Ruang Nusantara V bergemuruh. Bagi banyak yang hadir, itulah momen ketika suara Marhaen kembali hidup di jantung parlemen.(sang)