Banjir, longsor, dan air bah yang kini melumpuhkan sebagian wilayah Asia Tenggara dari Sumatra hingga Malaysia dan Thailand sering disebut sebagai “musibah alam.” Namun istilah itu, meski nyaman di telinga, justru menutupi kenyataan pahit: sebagian besar bencana ini adalah hasil dari pilihan-pilihan manusia sendiri.
Hujan ekstrem memang datang dari langit, tetapi dampaknya ditentukan oleh apa yang kita lakukan di bumi.
Kita Membiarkan Daerah Rawan Terus Dihuni
Di banyak daerah, khususnya Sumatra, masyarakat dipaksa hidup di bantaran sungai, lereng bukit, dan wilayah sempit yang mudah dilanda banjir. Mengapa? Karena akses terhadap lahan aman hanya tersedia bagi mereka yang mampu membeli. Sementara itu, kaum miskin menempati ruang-ruang yang seharusnya tidak ditempati.
Kita tidak bisa terus berpura-pura bahwa masyarakat pindah ke zona rawan karena “kurang edukasi.”
Sebagian besar dari mereka pindah karena tidak punya alternatif.
Dan ketika bencana datang, merekalah yang pertama terluka dan paling lama pulih.
Hutan Hilang, Bencana Mengalir
Perambahan, ekspansi perkebunan, dan proyek-proyek besar telah merampas kemampuan alam untuk menahan curah hujan ekstrem. Hutan yang dulu menjadi penyangga kini menyusut atau hancur. Sungai kehilangan penahan, tanah kehilangan akar, dan ketika hujan datang, longsor hanyalah konsekuensi logis.
Kita menuai apa yang selama ini kita abaikan.
Respons Pemerintah Selalu Reaktif, Nyaris Tidak Pernah Preventif
Setiap kali banjir datang, kita melihat pola yang sama:
- peringatan darurat,
- evakuasi,
- posko pengungsian,
- bantuan logistik,
- pernyataan “pemerintah hadir.”
Namun di balik itu, nyaris tidak ada perubahan struktural. Program rehabilitasi hutan berjalan lambat, tata ruang sering diabaikan, dan regulasi lingkungan kerap kali kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.
Pemerintah bergerak cepat saat bencana terjadi, tetapi sangat lamban mencegah agar bencana tidak datang lagi.
Asia Tenggara Menghadapi Ancaman yang Sama Namun Tidak Memilih Belajar Bersama
Banjir besar ini tidak mengenal batas negara. Malaysia, Thailand, Filipina, dan Indonesia mengalami penderitaan yang hampir serupa. Ironisnya, kolaborasi regional untuk mitigasi bencana masih sebatas jargon diplomatik.
Padahal, pola cuaca, arus laut, hingga kerentanan sosial jelas saling berkaitan di seluruh kawasan.
Mengapa kita tidak mulai menyusun protokol bersama untuk:
- manajemen DAS lintas negara,
- mitigasi kebakaran dan deforestasi,
- sistem peringatan dini yang terintegrasi,
- dan pertukaran data cuaca real-time?
Bencana ini seharusnya menjadi pengingat bahwa kita berada di kapal yang sama—hanya saja beberapa ruang di kapalnya lebih bocor daripada yang lain.
Bencana Mengungkap Siapa yang Paling Rapuh
Banjir dan longsor selalu paling memukul mereka yang miskin, jauh dari pusat kota, dan tidak memiliki sumber daya untuk pulih. Sementara itu, masyarakat kelas menengah ke atas dapat berpindah, memperbaiki kerugian, atau setidaknya memiliki akses terhadap bantuan lebih cepat.
Ketimpangan sosial adalah bahan bakar bagi bencana.Semakin timpang masyarakat, semakin besar dampak bencana yang sama.
Kita Butuh Cara Pandang Baru: Bencana Bukan Sekadar Musibah, tapi Evaluasi Kolektif
Jika kita terus memperlakukan banjir sebagai “takdir” atau “cobaan,” maka masalah ini akan terus terulang. Asia Tenggara membutuhkan perubahan cara pandang—bahwa bencana adalah hasil interaksi manusia dengan alam, bukan sekadar fenomena alam itu sendiri.
Opini publik harus diarahkan untuk menuntut:
- kebijakan tata ruang yang tegas,
- rehabilitasi hutan yang berkelanjutan,
- pengawasan ketat terhadap korporasi perusak lingkungan,
- dan perlindungan bagi kelompok rentan.
Tanpa itu, setiap curah hujan tinggi akan diikuti episode panjang penderitaan.
Kita Tidak Bisa Menyalahkan Hujan Selamanya
Hujan tidak berubah. Yang berubah adalah cara kita memperlakukan alam, ruang hidup, dan masyarakat. Bila kita ingin mengurangi korban, mengurangi kerusakan, dan mengurangi air mata, maka jalan satu-satunya adalah merombak struktur sosial dan kebijakan lingkungan kita.
Bencana ini bukan akhir. Tetapi ia harus menjadi peringatan terakhir yang kita abaikan.
Redaksi











