Jakarta,SwaraRakyat.com – Kritik yang beredar di media sosial terhadap sejumlah kebijakan Presiden Prabowo Subianto dinilai perlu dilihat secara lebih objektif dan tidak semata didasarkan pada asumsi politik.
Ketua GoPro (Golkar Prabowo), Arvi Jatmiko, pada Minggu (8/3) di Jakarta menilai sejumlah kritik yang muncul belum disertai analisis kebijakan yang komprehensif. Hal itu terutama terkait kerja sama perdagangan Agreement on Reciprocal Trade (ART), keterlibatan Indonesia dalam forum internasional Board of Peace (BoP), serta implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Arvi, dalam konteks geopolitik global yang semakin kompleks, keputusan strategis negara tidak dapat disederhanakan sebagai pengaruh individu atau kedekatan dengan pemimpin negara tertentu.
“Hubungan antarnegara selalu didasarkan pada kepentingan nasional. Diplomasi tidak bisa dilihat hanya dari persepsi terhadap satu tokoh politik, tetapi dari manfaat strategis bagi Indonesia,” ujar Arvi.
Ia juga menilai kritik yang mengaitkan kebijakan Indonesia dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terlalu menyederhanakan dinamika hubungan internasional. Menurutnya, kerja sama dengan berbagai kekuatan global merupakan bagian dari strategi menjaga posisi Indonesia dalam percaturan ekonomi dan geopolitik dunia.
Terkait program Makan Bergizi Gratis, Arvi menilai kebijakan tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Program intervensi gizi seperti itu, kata dia, juga telah diterapkan di banyak negara untuk menekan persoalan stunting serta meningkatkan kualitas pendidikan anak.
“Evaluasi tentu penting, tetapi kritik juga harus disertai data dan analisis yang jelas. Kebijakan negara sebaiknya dinilai dari implementasi serta dampaknya bagi kepentingan bangsa,” katanya.
Arvi juga menilai sebagian kritik yang muncul di ruang publik belakangan ini tidak sepenuhnya murni akademik, melainkan berpotensi menjadi bagian dari dinamika politik dan pencarian panggung.
“Dalam politik, kritik kadang bukan hanya soal substansi, tetapi juga soal positioning. Tidak menutup kemungkinan ada pihak yang berharap kritiknya dilihat oleh Presiden Prabowo sebagai bentuk perhatian, bahkan sebagai cara untuk mendekat atau masuk ke dalam lingkaran kekuasaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia justru membutuhkan konsolidasi pemikiran strategis agar tidak terjebak dalam perdebatan yang bersifat spekulatif dan personal. Menurutnya, energi bangsa sebaiknya difokuskan pada penguatan posisi Indonesia dalam percaturan geopolitik dan ekonomi dunia.(sang)













