Laut Sedang Dipersenjatai, Kapal Induk Bergerak Laut Nusantara Harus Waspada

Blitar,SwaraRakyat.com – Kekuatan militer Amerika Serikat di Laut Karibia selama berbulan-bulan terakhir di sekitar Venezuela memperlihatkan wajah asli geopolitik global hari ini. Kapal induk, ribuan personel militer, dan operasi laut intensif digelar dengan dalih pemberantasan narkoba. Kapal-kapal yang dituduh mengangkut narkotika dari pelabuhan Venezuela diserang dan dihentikan secara sepihak. Namun dunia paham, ini bukan sekadar perang melawan narkoba.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro dituduh Washington sebagai aktor utama perdagangan narkoba internasional, sehingga muncul legitimasi politik untuk menangkap dan mengadilinya di New York. Akan tetapi, berbagai analisis geopolitik menyebut faktor sebenarnya jauh lebih strategis: Maduro dianggap berbahaya karena kedekatannya dengan Rusia, China, Iran, dan Kuba.

Venezuela bukan hanya negara minyak. Ia adalah simpul geopolitik maritim Karibia–Atlantik yang menghubungkan energi, jalur laut, dan blok kekuatan non-Barat. Laporan geopolitik menyebutkan:

  • Dugaan keterlibatan milisi pro-Iran yang mendapat dukungan dari Venezuela
  • Isu rencana penempatan rudal Iran di wilayah Venezuela
  • Persenjataan dan pelatihan militer Venezuela yang dibantu China dan Rusia
  • Pasokan puluhan ribu barel minyak Venezuela setiap hari ke Kuba untuk menopang rezim Havana

Fakta-fakta ini menjelaskan satu hal: Laut Karibia sedang diperlakukan sebagai wilayah operasi militer sepihak, bukan sebagai ruang hukum internasional. Inilah pola klasik geopolitik maritim:

kontrol laut → tekan negara → kuasai sumber daya → lumpuhkan kedaulatan

Venezuela sering dipersempit sebagai negara minyak. Padahal secara maritim, Venezuela memiliki kekayaan laut signifikan di pesisir Karibia dan Atlantik:

  • Ikan tuna, kakap, kerapu, sarden
  • Udang, kepiting, cumi-cumi
  • Teripang dan rumput laut

Namun kekayaan laut ini tenggelam di bawah konflik geopolitik besar. Ketika negara tidak berdaulat penuh atas lautnya, sumber daya laut tidak lagi melindungi, justru mengundang tekanan asing.

Menurut Bayu Sasongko, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara (05/01/2026), inilah peringatan paling relevan bagi Indonesia.

“Apa yang terjadi di Venezuela menunjukkan bahwa laut adalah pintu masuk intervensi global. Indonesia jauh lebih strategis. Jika kita lengah, pola Karibia bisa berpindah ke Nusantara,” tegasnya.

Indonesia menguasai:

  • Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI)
  • Jalur utama Indo-Pasifik
  • Sumber daya perikanan raksasa
  • Titik temu kekuatan global

Jika hukum internasional bisa ditekuk di Karibia, ia juga bisa ditekuk di Nusantara.

Bung Karno telah lama mengingatkan bahwa imperialisme tidak selalu datang dengan bendera penjajah, melainkan dengan alasan moral, keamanan, dan stabilitas.

Dalam konteks ini, Marhaenisme maritim menjadi kunci:

  • Laut dikuasai negara untuk kesejahteraan rakyat
  • Nelayan kecil dilindungi dari kapital dan kekuatan asing
  • Sumber daya laut tidak dijadikan alat tawar geopolitik global

“Marhaen hari ini adalah nelayan kecil yang berhadapan dengan kapal besar, radar, dan kekuatan militer global,” ujar Bayu. Tanpa keberpihakan pada Marhaen maritim, kedaulatan hanya slogan.

Dalam konteks geopolitik yang semakin keras, Asta Cita Prabowo–Gibran bukan agenda normatif, melainkan kebutuhan strategis:

  • Kedaulatan nasional → laut sebagai garis depan
  • Kemandirian ekonomi → perikanan dan energi maritim rakyat
  • Pertahanan kuat → penguasaan wilayah laut
  • Peran global Indonesia → kekuatan maritim aktif, bukan negara lintasan

Asta Cita memberi arah: Indonesia harus berdiri tegak sebagai kekuatan maritim berdaulat.

Kebangkitan Nusantara bukan nostalgia Sriwijaya atau Majapahit. Ia adalah kesadaran geopolitik modern bahwa kejayaan bangsa kepulauan hanya lahir dari laut yang dikuasai, dijaga, dan dimakmurkan untuk rakyatnya.

Belajar dari Venezuela dan Laut Karibia, satu hukum sejarah harus ditegakkan:

  • Laut yang tidak dijaga akan dikuasai
  • Sumber daya tanpa kedaulatan akan diperebutkan
  • Rakyat maritim tanpa perlindungan akan menjadi korban pertama

Kebangkitan Nusantara menuju kejayaan berarti:

menjadikan laut sebagai jantung kedaulatan, Marhaen sebagai subjek, dan negara sebagai penjaga kepentingan bangsa.

Karena pada akhirnya, bagi bangsa kepulauan: Siapa menguasai lautnya, ia berdaulat. Siapa melindungi rakyat maritimnya, ia berjaya. Dan siapa menjaga Nusantara, dialah yang menulis sejarah masa depan Indonesia.(sang)