Oleh: Effra S. Husein
Dalam perayaan berdirinya pemerintahan Republik Rakyat Tiongkok, media Jepang merilis sebuah foto yang menampilkan tiga pemimpin negara: Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Kim Jong Un. Tidak ada Prabowo Subianto, bahkan tidak ada pemimpin negara Asia lain yang hadir.
Bagi sebagian pembaca di Indonesia, absennya Prabowo dari bingkai foto itu mungkin terasa janggal. Namun, jika dilihat dari kacamata geopolitik Jepang, justru pilihan itu sangat masuk akal.
Jepang, sejak berakhirnya Perang Dunia II, selalu memandang ke arah timur dan memikirkan ancaman di depan mata. Ada dua ancaman utama yang terus membayangi: Cina dan Korea Utara.
Korea Utara telah berulang kali meluncurkan rudal balistik yang melintas di atas wilayah Jepang, sebuah provokasi yang tidak hanya menguji kesabaran Tokyo, tetapi juga menebar rasa gentar bagi warganya. Cina pun menjadi lawan strategis dalam sengketa wilayah di Laut Cina Timur, terutama terkait Kepulauan Senkaku/Diaoyu.
Sementara itu, Rusia meski tidak seagresif Cina atau Korea Utara tetap dipandang sebagai ancaman potensial. Moskow memiliki sengketa wilayah dengan Tokyo terkait Kepulauan Kuril (yang oleh Jepang disebut Wilayah Utara) dan belakangan semakin erat menjalin hubungan militer dengan Pyongyang dan Beijing.
Karena itu, ketika tiga tokoh Xi, Putin, dan Kim berdiri berjejer dalam satu momen bersejarah, media Jepang menangkapnya sebagai simbol nyata dari “poros ancaman” terhadap keamanan nasional mereka. Foto tersebut menjadi narasi visual tentang tantangan terbesar yang dihadapi Jepang saat ini.
Bagi Tokyo, tiga orang inilah yang relevan untuk dibicarakan. Bukan Prabowo, bukan negara lain. Ini bukan soal diplomasi atau popularitas, tetapi soal persepsi ancaman yang langsung memengaruhi strategi pertahanan Jepang.
Di balik satu bingkai foto itu, Jepang mengingatkan rakyatnya: ancaman nyata ada di seberang lautan, dan mereka berdiri berdampingan. (*)







