Serangan Personal Amien Rais Dibalas Ancaman Hercules, Salah Siapa?

EDITORIAL – Jagat digital Indonesia kembali memanas. Kali ini bukan soal kebijakan publik, melainkan perseteruan terbuka antara tokoh senior Amien Rais dengan Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules.

Satu pihak menyerang personal Presiden, pihak lain membalas dengan nada ancaman. Pertanyaannya: Salah siapa?

​Secara objektif, kita sedang menonton drama di mana etika dan hukum sama-sama dipinggirkan. Amien Rais, dengan segala rekam jejak intelektualnya, kali ini dinilai telah “kebablasan”.

Narasi yang ia lempar bukan lagi kritik politik atas kinerja pemerintahan, melainkan serangan personal yang menjurus pada pembunuhan karakter Kepala Negara.

Di titik ini, Amien telah menukar pedang kritiknya dengan belati fitnah yang berisiko menjeratnya dalam delik penghinaan.

​Namun, reaksi Hercules pun tak bisa dibenarkan sepenuhnya. Loyalitas kepada pemimpin memang terpuji, tetapi ketika pembelaan disampaikan dalam nada ancaman yang mengintimidasi, ia justru menciptakan lubang baru dalam hukum pidana.

Di negara hukum, cara melawan hinaan bukanlah dengan ancaman fisik, melainkan dengan argumen yang santun atau jalur konstitusi.

​Konflik ini adalah cermin retaknya ruang dialog kita. Jika penghinaan dibalas dengan ancaman, maka yang menang bukanlah kebenaran, melainkan siapa yang paling keras berteriak.

Sudah saatnya kita kembali pada khitah: Kritiklah kebijakannya, bukan pribadinya; dan belalah marwahnya dengan kesantunan, bukan ancaman.

Kini, bola panas ada di tangan masyarakat. Apakah kita akan memaklumi penghinaan atas nama kebebasan, atau membenarkan ancaman atas nama loyalitas?

Salam Redaksi