JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang menembus angka psikologis Rp17.500 mulai memakan korban di sektor riil. Pelemahan ini memicu kenaikan biaya operasional yang membuat para pelaku usaha kecil dan menengah mulai menjerit.
Logistik di Ambang Kenaikan Tarif
Kenaikan harga suku cadang impor menjadi beban tambahan bagi pengusaha truk dan jasa pengiriman.
“Dolar naik, harga ban dan onderdil langsung ikut naik. Belum lagi urusan perawatan mesin. Kalau tarif angkut tidak kami naikkan, kami mau makan apa? Tapi kalau naik, konsumen pasti teriak,” keluh Ahmad (45), seorang pemilik armada truk logistik di kawasan pelabuhan.
Jeritan dari Pesisir
Kondisi tak jauh berbeda dirasakan para nelayan. Meski menggunakan BBM, fluktuasi harga global yang terdorong melemahnya Rupiah membuat akses terhadap modal melaut semakin sulit.
“Sekarang melaut itu seperti judi. Biaya solar sudah naik, sementara harga ikan di pasar tidak ikut naik karena daya beli warga lagi turun. Rupiah melemah ini benar-benar bikin kami tercekik,” ujar Rustam, seorang nelayan tangkap saat ditemui di dermaga.
Ancaman Inflasi di Depan Mata
Para pengamat ekonomi memperingatkan bahwa jika pemerintah tidak segera mengambil langkah stabilisasi, kenaikan biaya di hulu (logistik dan produksi) akan segera merembet ke harga pangan di pasar-pasar tradisional.
Pemerintah dituntut tidak hanya fokus pada intervensi pasar uang, tetapi juga memastikan ketersediaan energi dan suku cadang dengan harga terjangkau bagi para pelaku ekonomi di akar rumput.(Red)
Rupiah Tembus 17.500: Pengusaha Logistik dan Nelayan Tercekik Biaya Operasional













