Oleh: Ryo Disastro
Selama ini kita belajar ekonomi seolah-olah ekonomi adalah ilmu tentang pasar. Ada produksi, konsumsi, harga, permintaan, penawaran, uang, modal, tenaga kerja, lalu keseimbangan. Kita juga mengenal ekonomi melalui tokoh-tokoh pemikirnya seperti Adam Smith dengan invisible hand, Ricardo dengan perdagangan dan distribusi, Marx dengan kapital dan eksploitasi, Keynes dengan permintaan agregat dan negara, hingga Friedman dengan uang dan mekanisme pasar.
Namun, tidak banyak yang memahami bahwa sejarah pemikiran ekonomi berjalan layaknya estafet. Tongkat estafet itu bergerak secara bergiliran mulai dari Adam Smith, Thomas Robert Malthus, David Ricardo, John Stuart Mill, Karl Marx, Alfred Marshall, Thorstein Veblen dan kaum Institusionalis, John Maynard Keynes, Milton Friedman, Public Choice Theory (James Buchanan & Gordon Tullock), Rational Expectations Theory (John Muth & Robert Lucas), hingga ke Behavioral Economics (Daniel Kahneman & Amos Tversky). Masing-masing datang membawa gagasan, mengkritik gagasan sebelumnya, lalu melahirkan perdebatan dan teori baru.
Inilah yang dibahas pada kelas Sekolah Pemikiran Kejeniusan minggu lalu. Melalui Buku Todd G. Buchholz yang berjudul New Ideas from Dead Economists, Ichsanuddin Noorsy, sebagai pengampu kelas, memetakan perjalanan pemikiran ekonomi dunia itu secara komprehensif. Mempelajari perkembangan pemikiran ekonomi membantu peserta kelas memahami bagaimana gagasan ekonomi berkembang dan saling bereaksi.
Uniknya, materi tidak hanya berhenti pada perkembangan pemikiran ekonomi. Noorsy membawa peserta kelas merambah wilayah yang lebih dalam melalui pertanyaan: apakah memahami sejarah pemikiran ekonomi otomatis membuat kita memahami bagaimana ekonomi bekerja dalam kehidupan nyata?
Jawabannya belum tentu, sebab ekonomi tidak pernah bekerja sendirian. Ekonomi selalu bertemu dengan politik, hukum, negara, korporasi, teknologi, masyarakat, budaya, militer, keuangan, bahkan nilai dan spiritualitas. Karena itu, memahami ekonomi tidak cukup dengan bertanya, “Apa yang dikatakan teori?”
Pertanyaannya harus didalami hingga kita bisa tahu siapa yang menjalankan teori itu, melalui institusi apa, dengan instrumen apa, untuk kepentingan siapa, terhadap siapa, dan dengan akibat apa? Di sinilah ekonomi berubah menjadi ekonomi-politik.
Kita ambil contoh paling sederhana, yaitu pasar. Dalam teori, pasar adalah mekanisme pertukaran. Tetapi dalam kenyataan, pasar tidak pernah berada di ruang hampa. Kita harus bertanya siapa pelaku pasarnya? Seberapa terkonsentrasi modal? Siapa menguasai informasi? Siapa menguasai teknologi? Siapa menentukan harga? Siapa menguasai mata uang? Siapa membuat aturan? Siapa mendapatkan manfaat dan siapa menanggung biayanya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengubah cara kita melihat ekonomi. Pasar bukan lagi sekadar tempat bertemunya permintaan dan penawaran. Ia menjadi sebuah konfigurasi hubungan kekuasaan.
Karena itu menarik melihat perjalanan pemikiran ekonomi modern melalui beberapa tokoh. Smith membantu kita memahami pasar, pembagian kerja dan insentif. Marx membuka pintu yang lebih dalam soal modal, pemilik modal, tenaga kerja, hubungan produksi, surplus, akumulasi dan konsentrasi. Dari sana kita mulai melihat bahwa di balik transaksi ekonomi terdapat relasi sosial dan kekuasaan.
Untuk membawa pembahasan ekonomi pada konteks yang mutakhir, Noorsy kemudian membawa peserta untuk menyelami lebih dalam ekonomi-politik melalui tiga jalur kritik: Stiglitz, Krugman, dan Hudson.
Stiglitz menunjukkan bahwa pasar tidak selalu bekerja seperti yang digambarkan dalam buku teks karena informasi tidak simetris, institusi tidak sempurna dan distribusi kekuasaan tidak seimbang.
Krugman memperlihatkan bahwa perdagangan internasional juga tidak berlangsung dalam ruang yang sepenuhnya kompetitif. Ada economies of scale, persaingan tidak sempurna, geografi dan kondisi makroekonomi.
Hudson membawa persoalan lebih jauh ke wilayah keuangan, yaitu utang, bunga, rent extraction, dan kekuatan kreditur. Dalam kerangka ini, surplus ekonomi dapat berpindah bukan hanya melalui proses produksi, tetapi melalui sistem keuangan. Rangkaian unsur debt (utang), interest (bunga), rent (rente), extraction (ekstraksi), inequality (kesenjangan), dan dependency (ketergantungan) menjadi penting untuk membaca struktur ekonomi.
Dengan demikian, evolusi pemikiran tersebut sebenarnya tidak harus dibaca sebagai pergantian teori semata, tetapi juga bisa dibaca sebagai pendalaman terhadap objek ekonomi.(Bersambung)













