Perempuan Marhaen Menjaga Pangan Bangsa: Refleksi Hari Ibu Bersama Ir. Robi Agustiar

Bandung, SwaraRakyat.comPeringatan Hari Ibu tidak seharusnya berhenti pada seremoni dan ucapan simbolik. Bagi Ir. Robi Agustiar, S.Pt., MSc., IPM., ASEAN Eng, Hari Ibu adalah momentum refleksi perjuangan, tentang perempuan Marhaen, peternak rakyat, dan kedaulatan pangan bangsa.

Hal itu disampaikan Robi dalam wawancara pada Senin, 22 Desember 2025. Ia membuka pernyataannya dengan mengingatkan pesan keras Bung Karno:

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Menurut Robi, kondisi peternakan rakyat hari ini mencerminkan kebenaran peringatan tersebut. Penjajahan tidak lagi hadir dalam bentuk kolonialisme klasik, melainkan melalui kebijakan ekonomi, impor pangan, dan liberalisasi pasar yang meminggirkan peternak kecil.

Robi dikenal sebagai salah satu pendiri GMNI Cabang Sumedang, ditempa dalam tradisi ideologis Marhaenisme. Dari GMNI, ia menyerap keyakinan bahwa rakyat kecil bukan objek belas kasihan, melainkan subjek sejarah.

“Bung Karno mengatakan Marhaen bukan orang miskin, tetapi orang kecil yang dimiskinkan oleh sistem. Hari ini, peternak rakyat, termasuk para ibu di kandang dan dapur, adalah Marhaen modern,” tegasnya.

Kini, sebagai Sekretaris Jenderal DPP Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Robi berada di garis depan advokasi peternakan rakyat. Ia menilai sektor ini tengah berada dalam tekanan berat akibat impor yang longgar, harga ternak yang ditekan, biaya pakan yang tinggi, serta minimnya perlindungan negara.

“Yang paling terdampak justru perempuan. Ibu-ibu peternak yang mengurus ternak, mengelola rumah tangga, dan menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga, tapi tidak pernah benar-benar dihitung dalam kebijakan,” ujarnya.

Robi mengaitkan kondisi tersebut dengan peringatan Bung Karno tentang imperialisme modern:

“Imperialisme tidak selalu datang dengan senapan, tetapi dengan peraturan-peraturan ekonomi.”

Dalam wawancara tersebut, Robi menyampaikan sejumlah usulan dan saran strategis untuk menyelamatkan peternakan rakyat. Ia menekankan pentingnya pengendalian impor berbasis kebutuhan riil, perlindungan harga dasar ternak, serta jaminan ketersediaan pakan yang terjangkau.

Ia juga mendorong penguatan koperasi peternakan rakyat sebagai alat produksi kolektif.

“Bung Karno sudah menegaskan koperasi adalah sokoguru perekonomian nasional. Koperasi harus menjadi alat perlawanan ekonomi rakyat, bukan sekadar formalitas,” katanya.

Selain itu, Robi menyoroti persoalan akses pembiayaan yang selama ini justru menjerat peternak kecil. Menurutnya, negara harus menghadirkan skema pembiayaan yang membebaskan dan berpihak pada keberlanjutan usaha rakyat.

Soal regenerasi, Robi menegaskan pentingnya peternak muda ideologis, dengan keterlibatan perempuan secara setara. “Peternakan bukan sektor pinggiran. Ini soal masa depan kedaulatan pangan dan martabat bangsa,” ujarnya.

Bagi Robi, kandang adalah medan juang, ruang konkret tempat Marhaenisme diuji dalam praktik sehari-hari.

“Bangsa yang tidak berdiri di atas kaki sendiri akan menjadi bangsa kuli,” ucapnya mengutip Bung Karno.

Menutup wawancara bertepatan dengan Hari Ibu, 22 Desember, Robi menegaskan bahwa perjuangan peternak rakyat adalah perjuangan keluarga, perjuangan perempuan, dan perjuangan nasional.

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” pesan Bung Karno yang terus ia pegang.

Dari GMNI ke kandang rakyat, dari teori ke praktik, dari wacana ke perlawanan, Ir. Robi Agustiar menegaskan bahwa Marhaenisme masih hidup, bekerja, dan dijaga oleh tangan-tangan peternak serta ibu-ibu Indonesia.(sang)