Warga Kalimantan Gelar Aksi Solidaritas di Bundaran HI, Soroti Krisis Ekologis dan Ketimpangan Energi

Sejumlah pemuda dan warga perantau asal Kalimantan menggelar aksi solidaritas di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (23/8/2026), menyuarakan keprihatinan terhadap krisis ekologis dan ketimpangan energi di Bumi Borneo. (Dok. Bumi Borneo)

JAKARTA, Swararakyat.com – Sejumlah pemuda dan masyarakat perantau asal Kalimantan yang tergabung dalam gerakan solidaritas Bumi Borneo menggelar aksi damai di kawasan Car Free Day (CFD) Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Minggu (23/8/2026).

Aksi tersebut digelar untuk menyuarakan keprihatinan terhadap berbagai persoalan yang dinilai masih membebani masyarakat di Pulau Kalimantan, mulai dari krisis ekologis hingga persoalan ketersediaan energi dan infrastruktur dasar.

Dalam aksi itu, massa menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan yang disebut berdampak terhadap kualitas udara serta kesehatan masyarakat. Kabut asap juga dinilai mengganggu aktivitas warga dan keselamatan pengguna jalan.

Selain persoalan lingkungan, massa aksi menyoroti kondisi distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan kelistrikan di sejumlah wilayah Kalimantan. Antrean panjang di sejumlah SPBU serta pemadaman listrik bergilir disebut telah mengganggu aktivitas masyarakat dan roda perekonomian.

Koordinator aksi sekaligus juru bicara Bumi Borneo, Ahmad Zaki, pemuda asal Martapura, Kalimantan Selatan, mengatakan kondisi tersebut menjadi ironi bagi daerah yang selama ini dikenal memiliki kekayaan sumber daya alam dan menjadi salah satu kawasan penting dalam penyediaan energi nasional.

“Kalimantan dikenal sebagai lumbung energi nasional, tetapi masyarakatnya masih harus menghadapi persoalan kelangkaan BBM dan pemadaman listrik,” ujar Ahmad Zaki dalam aksi tersebut.

Menurutnya, eksploitasi sumber daya alam di Kalimantan harus diimbangi dengan perlindungan lingkungan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Melalui aksi di pusat Ibu Kota, Bumi Borneo mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan memberikan perhatian lebih serius terhadap persoalan ekologis dan ketimpangan energi di Kalimantan.

Mereka juga meminta adanya langkah konkret untuk memulihkan lingkungan, memastikan ketersediaan energi bagi masyarakat, serta memastikan pemanfaatan sumber daya alam memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat di daerah penghasil (ESH)