Jakarta,SwaraRakyat — Api politik dan hukum kembali menyala! Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea meledak-ledak membela kliennya, eks Mendikbudristek Nadiem Makarim, yang kini diseret sebagai tersangka dugaan korupsi Program Digitalisasi Pendidikan periode 2019–2022.
Dalam pernyataan yang bikin kuping elit kepanasan, Hotman menuding kasus Nadiem tak ubahnya cermin politik kotor penuh intrik kekuasaan. Ia bahkan menyamakan kasus itu dengan drama hukum yang menjerat eks Mendag Thomas Trikasih Lembong, yang belakangan mendapat abolisi dari Presiden Prabowo setelah sempat divonis 4,5 tahun penjara dalam kasus impor gula kristal.
“Tidak ada satu sen pun uang haram yang mengalir ke Nadiem! Sama persis dengan kasus Lembong, ini murni permainan politik busuk. Tuduhan jual beli laptop hanyalah ilusi oligarki,” seru Hotman dengan nada menantang(5/9).
Hotman Paris bahkan menantang langsung Presiden Prabowo Subianto. Ia meminta hanya 10 menit bertemu muka di Istana. Sepuluh menit yang ia klaim cukup untuk membuktikan bahwa Nadiem tidak bersalah.
“Saya hanya butuh 10 menit untuk membuktikan kebenaran di depan Bapak Presiden, yang pernah jadi klien saya selama 25 tahun. Jika saya gagal, integritas saya sebagai pengacara bisa kalian hancurkan di depan rakyat!” tegasnya.
Pernyataan ini sontak jadi bom politik. Bagaimana tidak, Hotman terang-terangan membawa nama Prabowo ke meja pertaruhan hukum dan keadilan. Ia bahkan menantang sistem peradilan borok negeri ini, yang kerap dijadikan alat tawar-menawar elit demi mengamankan kursi kekuasaan.
Di balik gegap gempita ini, publik kembali disuguhi tontonan murahan, rakyat dicekoki isu korupsi demi korupsi, sementara para elit bisa dapat abolisi, bebas, bahkan melenggang di panggung politik.
Apakah 10 menit Hotman Paris akan menjadi palu godam yang menghantam benteng kekuasaan, atau sekadar drama baru di republik sandiwara?(sang)













