Jakarta,SwaraRakyat.com – Aktivis pemberdayaan perempuan Atika Maulida, S.Ag., M.M., Founder Hijabie Community, menilai tantangan yang dihadapi perempuan saat ini semakin kompleks, sehingga gerakan pemberdayaan tidak lagi dapat mengandalkan pendekatan konvensional semata. Selain persoalan klasik seperti akses pendidikan dan kemandirian ekonomi, perempuan kini juga menghadapi tantangan baru di ruang digital yang menuntut pendekatan lebih adaptif.
Dalam perspektif budaya geopolitik Nusantara, perubahan sosial tidak pernah sekadar dipahami sebagai pergeseran teknologi, melainkan sebagai perubahan tata relasi dalam ruang hidup masyarakat. Nusantara sejak lama mengenal perempuan bukan hanya sebagai aktor domestik, melainkan sebagai penjaga keseimbangan sosial, penghubung nilai antargenerasi, dan penopang ketahanan komunitas. Karena itu, pemberdayaan perempuan pada hakikatnya bukan agenda modern yang lahir belakangan, melainkan bagian dari denyut panjang peradaban Nusantara yang kini menemukan konteks barunya di era digital.
Menurut Atika, pemberdayaan perempuan harus dipahami sebagai proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi, keberpihakan, dan kerja nyata di tingkat komunitas, bukan sekadar agenda seremonial atau slogan.
“Pemberdayaan perempuan bukan hanya soal program yang dijalankan sesaat. Ini tentang membuka akses, membangun keberanian, dan memastikan perempuan memiliki ruang untuk menentukan masa depannya sendiri,” ujar Atika dalam keterangannya, Kamis,15/5/2026.
Atika mengatakan komitmennya terhadap isu pemberdayaan perempuan telah ia jalani selama sekitar 12 tahun, sejak masih duduk di bangku kuliah pada usia 21 tahun. Keterlibatan tersebut, kata dia, berawal dari keresahannya melihat masih banyak perempuan yang menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan, rendahnya literasi, hingga tantangan dalam membangun kemandirian ekonomi.
Dalam kerangka geopolitik budaya Nusantara, keterbatasan akses terhadap perempuan bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga persoalan ketahanan peradaban. Sebuah bangsa yang membatasi ruang tumbuh perempuan sejatinya sedang mempersempit kapasitas regenerasi sosialnya sendiri. Dalam logika Nusantara, kekuatan bangsa tidak hanya diukur dari pertahanan negara atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas manusianya, termasuk bagaimana perempuan memperoleh ruang yang bermartabat untuk berkembang.
Di awal perjalanannya, Atika mengaku tidak sedikit pihak yang meragukan kapasitasnya karena usianya yang masih muda. Namun, keraguan tersebut justru menjadi dorongan baginya untuk terus bergerak dan membuktikan komitmennya.
“Dulu banyak yang meragukan karena saya masih sangat muda. Namun saya percaya, keberpihakan terhadap isu perempuan tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kepedulian dan kemauan untuk berbuat,” katanya.
Sejak itu, Atika aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pemberdayaan berbasis komunitas, mulai dari edukasi literasi, pelatihan keterampilan praktis, hingga pendampingan bagi perempuan dalam membangun kemandirian ekonomi.
Menurut dia, perempuan yang memiliki akses terhadap pengetahuan dan kemampuan ekonomi cenderung memiliki posisi yang lebih kuat, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan sosial.
“Ketika perempuan diberdayakan, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Atika menilai perubahan zaman telah memperluas spektrum tantangan pemberdayaan perempuan. Jika sebelumnya fokus utama banyak berkisar pada akses pendidikan dan ekonomi, kini perempuan juga dituntut memiliki kesiapan menghadapi dinamika era digital, termasuk dalam hal literasi digital, penguatan jejaring, perlindungan di ruang siber, serta peningkatan kapasitas diri.
Dalam pembacaan geopolitik kontemporer, ruang digital hari ini merupakan medan kebudayaan baru. Perebutan pengaruh tidak lagi hanya terjadi dalam batas-batas geografis, tetapi juga dalam arus informasi, persepsi, dan pembentukan kesadaran publik. Dalam konteks itu, perempuan bukan sekadar pengguna teknologi, melainkan aktor strategis dalam menjaga daya tahan sosial masyarakat terhadap disinformasi, manipulasi budaya, hingga fragmentasi nilai.
“Perempuan hari ini membutuhkan lebih dari sekadar kesempatan. Mereka membutuhkan perlindungan, jejaring, peningkatan kapasitas, dan rasa percaya diri untuk mengambil peran strategis di tengah perubahan zaman,” tuturnya.
Menurut Atika, pendekatan pemberdayaan yang stagnan berisiko membuat gerakan kehilangan relevansi di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat.
Bagi Atika, perjalanan lebih dari satu dekade yang telah dilaluinya bukanlah titik akhir, melainkan bagian dari proses panjang untuk memperluas dampak gerakan pemberdayaan perempuan.
“Tantangan perempuan ke depan akan semakin kompleks. Karena itu, gerakan pemberdayaan harus terus hidup, terus menyesuaikan diri, dan terus membuka ruang bagi lebih banyak perempuan untuk tumbuh dan berdaya,” katanya.
Dalam horizon pemikiran budaya Nusantara, pemberdayaan perempuan sejatinya adalah investasi strategis peradaban. Sebab bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu bertahan menghadapi tekanan global, tetapi bangsa yang mampu merawat keseimbangan nilai, regenerasi sosial, dan martabat manusianya.
Ia berharap semakin banyak generasi muda, khususnya perempuan, berani mengambil peran dalam perubahan sosial dan tidak ragu memulai langkah dari lingkungan terdekat.(sang)













